Rambu-Rambu dalam Berdakwah

5 Okt

Dakwah di Jalan Allah ( 2 )

Rambu-Rambu dalam Berdakwah

Sesungguhnya berdakwah di jalan Allah adalah jalan yang ditempuh oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan segenap pengikutnya. Berdakwah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari neraka menuju surga. Pengertian berdakwah dijalan Allah yang paling bagus adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata : “ berdakwah dijalan Allah adalah berdakwah kepada keimanan kepada-Nya dan kepada setiap apa yang dibawa oleh para Rosul-Nya, dengan membenarkan setiap berita yang mereka bawa dan mentaati perintahnnya….

Didalam dakwah memiliki rambu-rambu serta asas-asas yang harus terpenuhi. Kapan salah satu dari dari rambu-rambu serta asas-asas tersebut tidak terpenuhi maka dakwah tersebut tidak lagi dikatakan dakwah yang benar dan tidak akan menghasilkan buah yang diharapkan meskipun banyak harta yang disumbangkan dan waktu yang dinafkahkan. Hal ini sebagaimana yang kita saksikan pada kebanyakan dakwah kontenporer yang tidak ditegakkan diatas asas yang benar.

Rambu-rambu dan asas-asas dalam dakwah yang benar adalah sebagaimana ditunjukan didalam Al Quran dan Hadits, dan teringkas pada hal-hal berikut :

  1. Ilmu

Seorang yang berdakwah harus memiliki ilmu, maka orang yang bodoh tidak layak untuk berdakwah. Allah Ta’aala berfirman

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. Yusuf : 108

Kata bashiroh maksudnya adalah ilmu. Maka seorang da’I disyaratkan memiliki ilmu dalam 3 hal :

  1. Ilmu tentang apa yang akan dia dakwahkan
  2. Ilmu tentang keadaan orang yang dia dakwahi
  3. Ilmu tentang metode berdakwah

Kapan seorang da’I tidak memiliki ilmu ini, maka dia akan runtuh dari jalan dakwah ini.

  1. Amal

Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu. Maka seorang da’I wajib mengamalkan apa yang dia dakwahkan, sehingga dia menjadi suri tauladan yang baik dan ucapannya selaras dengan apa yang dia dakwahkan sehingga orang yang jahat tidak memiliki alasan untuk meninggalkan kebenaran yang dia bawa. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam, bahwa dia berkata kepada kaumnya

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Huud: 88

  1. Ikhlas

Dakwah adalah salah satu bentuk ibadah, dan ibadah itu diterima dengan 2 syarat yaitu ikhlas dan mencontoh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga dakwah tersebut hanya karena Allah semata, bukan karena riya, sum’ah, bukan untuk mencari kedudukan, ingin terpandang dimata manusia dan bukan pula kerena ingin mencari sedikit dari kesenangan dunia. Karena dakwah yang disusupi oleh maksud tujuan tersebut, maka dakwahnya bukan karena Allah, akan tetapi hal tersebut adalah dakwah untuk kepentingan sendiri atau ketamakan yang dia turuti. Seluruh para Nabi dan Rosul berkata kepada kaum mereka :

Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. upahku hanyalah dari Allah . Huud: 29

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al An’am: 90

  1. Memulai dakwah dengan dari hal yang paling penting kemudia yang penting

Dimana dakwah dimulai dengan menyerukan kepada perbaikan aqidah, mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan melarang dari kesyirikan. Kemudian berdakwah untuk menunaikan sholat, menunaikan zakat, menunaikan kewajiban-kewajiban dan melarang dari yang haram. Hal ini adalah jalan dakwah seluruh para Nabi dan para Rosul. Allah Ta’aala berfirman

Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. An Nahl: 36

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. Al Anbiya: 25

Sebaik-baik teladan dan manhaj yang sempurna dalam berdakwah adalah shiroh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana beliau menetap di mekkah selama 13 tahun menyeru manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari kesyirikan sebelum Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka dengan sholat, zakat, puasa dan haji, dan sebelum beliau melarang mereka dari perbuatan riba, zina, mencuri, dan dari membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

  1. Sabar

Dimana seorang da’I bersabar atas apa yang dia hadapi dalam jalan dakwah berupa kesulitan-kesulitan dan gangguan manusia. Karena jalan dakwah bukanlah jalan yang mulus, akan tetapi jalan dakwah adalah jalan dikelilingi perkara-perkara yang dibenci dan perkara yang membahayakan. Sebaik-baik suri tauladan dalam hal ini adalah para Nabi dan para Rosul. Bagaimana mereka mendapatkan gangguan serta penghinaan dari kaum mereka sendiri. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi-Nya

Dan sungguh Telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. Al An’am: 10

Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Al An’am: 34

Demikian pula apa yang telah menimpa kepada para pengikut Nabi dan Rosul, berupa kesulitan dan gangguan sesuai apa yang mereka tegakkan dalam dakwah.

  1. Berakhlak yang baik

Seorang da’I wajib memiliki akhlak yang baik dan hikmah dalam berdakwah. Hal ini adalah diantara sebab besar diterimanya dakwah. Allah Ta’aala berfirman

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. An Nahl: 125

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Ali ‘Imran: 159

  1. Semangat

Seorang da’I harus memiliki semangat dan harapan yang tinggi. Tidak boleh baginya untuk berputus asa dalam berdakwah dan menyampaikan hidayah kepada kaumnya meskipun hal tersebut dia tempuh dalam waktu yang cukup lama. Sejarah para Nabi dan Rosul adalah teladan yang sangat baik baginya. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis salam

Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Al ‘Ankabut: 14

iitulah diantara rambu-rambu yang hendaknya dimiliki seorang da’i. Kapan hal tersebut hilang dari seorang da’I maka dia akan terhenti diawal dakwah dan kembali berputus asa dalam amalnya.

 

Wallahu A’lam bish showab

 

Oleh : Abu Qotadah Ridhwan Al Liyasiy

( Disarikan dari muqoddimah Syaikh Sholih Fauzan terhadap kitab manhajul anbiya fid da’wah ilallah dengan sedikit tambahan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: