Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan (JILID II -ٍSelesai-)

24 Jul

Gambar

Pada pembahasan yang telah lalu telah kami kemukakan beberapa penjelasan tentang akidah, hakikat keimanan, sumber pengambilan keimanan dan lain sebagainya. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut silahkan baca artikel kami yang berjudul “Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan (Jilid I)”, insya Allah pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa poin yang cukup penting untuk kita ketahui, selamat membaca..

A.      DI ANTARA SEBAB-SEBAB PENTING TERJADINYA PENYIMPANGAN AKIDAH

1.       Bodoh tentang aqidah yang benar

Ini adalah di antara sebab terbesar terjadinya penyimpangan, perkara-perkara yang akan menyebabkan penyimpangan akidah :

  1. Berpaling dari mempelajari akidah yang benar.
  2. Berpaling dari mengajarkannya.
  3. Menaruh sedikit perhatian terhadap akidah.

Jika ini terjadi, maka akibatnya akan ada suatu generasi yang tidak mengetahui akidah yang benar dan tidak pula mengetahui lawan dari akidah yang benar. Sehingga mereka menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan dianggap sebagai kebenaran. Sebagaimana Umar bin Al-Khattab berkata : “Tali keislaman akan berkurang seutas demi seutas jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara Jahiliyyah.”

2.       Fanatik terhadap nenek moyang

Sikap fanatik ini akan menyebabkan seseorang akan berpegang teguh kepada apa yang telah ada pada nenek moyang mereka, meskipun mereka berada diatas kebatilan. Dan meninggalkan apa yang menyelisihi nenek moyang meskipun perkara tersebut adalah kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah (yang artinya):

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al-Baqarah : 170)

  1. 3.       Taklid Buta

Seperti orang yang mengambil ucapan-ucapan manusia dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalil-dalilnya dan tanpa mengetahui kadar kebenarannya. Hal ini sebagaimana terjadi dari kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah akidah dari kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Sufiyah, dan selainnya. Mereka taklid kepada pendahulu-pendahulu mereka dari pemimpin-pemimpin kesesatan, maka mereka pun tersesat dan menyimpang dari akidah yang benar.

  1. 4.       Berlebih-lebihan/ekstrim terhadap para wali dan orang-orang sholih

Di antara bentuknya adalah mengangkat mereka melebihi kedudukan mereka yang sebenarnya. Di mana mereka meyakini dalam diri mereka hal-hal yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah, seperti: Mendatangkan manfaat, menolak bahaya dan menjadikan mereka sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam penunaian hajat dan pengabulan doa-doa.

Bahkan hal tersebut terkadang berubah menjadi bentuk peribadahan kepada mereka, mendekatkan diri kepada kuburan-kuburan mereka dengan cara menyembelih, bernadzar, berdoa, beristighasah, dan meminta bantuan. Hal ini sebagaimana yang telah terjadi pada kaum Nabi Nuh terhadap hak-hak orang shalih, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.”  (QS. Nuh : 23).

Dan  itu juga yang terjadi pada para penyembah kubur dikebanyakan negeri pada saat ini.

  1. 5.       Lalai dari mempelajari ayat-ayat Allah yang bersifat Kauniyah dan ayat-ayat Allah yang bersifat Qur’aniyah

Hal ini dapat menyebabkan mereka tersilaukan dengan pemberian yang sifatnya materi sampai mereka mengira bahwa pemberian tersebut berasal dari manusia semata, maka mereka pun akhirnya mengagungkan manusia dan menyandarkan pemberian tersebut kepada mereka.

Hal ini sebagaimana ucapan Qarun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku””. ( Qashshash : 78).

Dan sebagaimana ucapan manusia. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah ia berkata: “Ini adalah hakku… (QS. Fushilat : 50). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):

… kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku… (QS. Az Zumar : 49)

  1. 6.       Banyaknya rumah-rumah yang kosong dari bimbingan yang benar

Keadaan ini sudah menjadi hal yang biasa dikalangan kaum muslimin. Rumah-rumah mereka kosong dari bimbingan ilmu, bahkan rumah mereka diisi dengan televisi atau media elektronik lainnya yang tidak membimbing atau mendidik dengan pendidikan yang benar.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Muttafaqun’alaihi.

Maka kedua orang tua memiliki andil besar dalam mendidik buah hatinya.

  1. 7.       Jauhnya berbagai sarana pengajaran ilmu agama dan sarana informasi dalam menyampaikan perkara yang penting.

Ini terjadi hampir dikebanyakan negeri-negeri Islam. Bahkan terkadang sarana-sarana tersebut tidak memberikan perhatian besar terhadap masalah agama atau bahkan tidak memberikannya sama sekali. Maka jadilah sarana-sarana tersebut sebagai perantara menuju kehancuran dan penyimpangan. Mereka tidak memperhatikan hal-hal yang dapat memperbaiki dan menguatkan akhlak dan tidak pula mengajarkan akidah yang benar.

  1. B.      FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMBENTENGI DIRI DARI PENYIMPANGAN AKIDAH

Kalau kita sudah mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan akidah maka dengan mudah kita dapat mengetahui hal-hal yang dapat membentengi diri dari berbagai penyimpangan. Hal tersebut teringkas dalam beberapa hal berikut:

  1. Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam pengambilan ilmu akidah yang benar. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh generasi awal umat ini. Imam Malik berkata : “Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah membuat baik generasi awalnya”. Selain itu dengan mengkaji akidah kelompok yang menyimpang dan mengetahui kerancuan-kerancuan akidah mereka dalam rangka untuk membantah dan berhati-hati darinya. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair.

Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengamalkan

Akan tetapi untuk menjaga diri darinya

Barang siapa yang tidak mengetahui kejelekan dari kebaikan

Maka dia akan terjatuh kedalam kejelekan tersebut

  1. Perhatian terhadap pembelajaran ilmu akidah yang benar dengan berbagai macam jenjangnya.
  1. Bersungguh-sungguh dalam mempelajari kitab-kitab ulama terdahulu yang masih bersih dari berbagai macam penyimpangan dan menjauh dari kitab-kitab dari kelompok yang menyimpang, seperti: kelompok Sufi, Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Maturidiyah dan selain mereka. Ini dilakukan untuk mengetahui akidah mereka dalam rangka membantah kebatilan mereka dan berhati-hati darinya.
  1. Tegaknya para dai yang meyeru kepada perbaikan akidah di kalangan manusia, serta membantah kebatilan-kebatilan kelompok yang menyimpang.

[Disarikan dari Kitab ‘Aqidah at-Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dan beberapa rujukan lainnya]

RIDWAN ABU QATADAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: