Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan [Part I]

17 Jul

Gambar

A.     MUKADDIMAH

Aqidah Islam adalah aqidah yang dibawa oleh setiap Rasul yang diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menjalankan perkara aqidah tersebut.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (QS. An-Nahl : 36). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

 

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha bijaksana lagi Maha tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya. (QS. Huud : 1-2).

 

Aqidah adalah pondasi Islam, yang dibangun di atas pondasi tersebut seluruh syari’at Islam. Maka sebagaimana dimaklumi bersama, seseorang jika ingin meninggalkan bangunannya maka dia harus memperkokoh pondasi bangunan tersebut. Jika dia tidak melakukan hal tersebut maka bangunan tersebut akan cepat runtuh. Hanya orang bodoh saja yang terus meninggikan bangunan tersebut tetapi tidak mau memperkokoh pondasinya.

Oleh karena itu pada pembahasan-pembahasan berikut, akan kita pelajari bersama pengertian aqidah dan beberapa hal yang berkaitan dengan aqidah.

B.      PENGERTIAN AQIDAH

Secara bahasa kata aqidah adalah bentuk pecahan dari Al-‘Aqdu yaitu ikatan atau simpul yang kuat. Adapun secara umum, aqidah dapat diartikan sebagai keimanan atau ketetapan pasti yang tidak dicampuri dengan keraguan. Jika ketetapan itu sesuai dengan kenyataan dan sesuai wahyu dari Allah, maka itu dinamakan sebagai aqidah yang benar (Al-Aqidah Ash Shahihah) yang akan menyelamatkannya dari siksa Allah. Dan jika ketetapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan wahyu  Allah, maka dia dinamakan sebagai aqidah yang bathil yang akan membuahkan siksaan dan kecelakaan bagi pemeluknya di dunia dan di akherat.

Sebagian para ulama ada juga yang menjelaskan aqidah secara umum yaitu keimanan yang pasti kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan keimanan kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk. Inilah yang dinamakan rukun Iman. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi … (QS. Al-Baqarah : 177)

C.      HAKEKAT KEIMANAN

Hakekat keimanan adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan amalan dengan anggota badan, keimanan bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini adalah hakekat keimanan yang diterangkan oleh para ulama-ulama Islam sepanjang sejarah. Di antaranya al-Imam ‘Abdullah bin Muhammad Al-Andalusy, dia berkata dalam syairnya (yang artinya):

Keimanan kita kepada Allah ada 3 hal

Amalan, ucapan dan keyakinan hati

Keimanan bertambah dengan taqwa dan berkurang dengan maksiat

Keduanya berkumpul dalam hati

Di antara dalil para ulama dalam masalah ini adalah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

Iman ada tujuhu puluh tiga hingga tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaahu yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah sebagian dari iman.

Dalam hadits di atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mencontohkan amalan-amalan keimanan:

Ucapan dengan lisan   : ucapan laa ilaha illallahu

Ucapan dengan hati    : rasa malu

Amalan badan             : menyingkirkan gangguan dari jalan

Dalil yang menunjukan keimanan bisa bertambah dan berkurang, di antaranya dalam surah Al-Fath : 4 (yang artinya):

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 4)

Sebagaimana dimaklumi bersama, sesuatu yang bisa bertambah pasti dia bisa berkurang, maka keimanan akan terus bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan.

D.     SUMBER PENGAMBILAN ILMU AQIDAH

Masalah aqidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak tetap masalah tersebut kecuali dengan dalil dari pembuat syari’at. Maka tidak ada kebebasan untuk pendapat-pendapat atau ijtihad dalam masalah aqidah. Dari sini bisa dipahami bahwa sumber ilmu aqidah terbatas apa yang datang dalam Al-Qur’an dan hadits. Hal ini karena tidak ada siapapun yang mengetahui tentang Allah, tentang perkara yang merupakan kewajiban untuk-Nya, tentang perkara yang Allah disucikan darinya melainkan Allah sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah melebihi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Oleh karena itu jalan beragama yang telah ditempuh oleh para sahabat Nabi, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan generasi-generasi setelahnya dalam pengambilan ilmu aqidah hanya terbatas dari Al-Qur’an dan Sunnah. Maka apa saja yang ditunjukkan dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang hak Allah, mereka mengimaninya, meyakininya dan mengamalkannya, serta apa saja yang tidak di tunjukkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah tentang Allah, mereka pun meniadakannya dan menolaknya. Oleh karena itu aqidah mereka adalah satu dan tidak terjadi perbedaan antara mereka pada perkara aqidah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thahaa : 123).

Berbeda dengan sebagian manusia yang membangun aqidahnya selain dari Al-Qur’an dan hadits. Di antara mereka mengambil aqidah dari ilmu kalam, ilmu mantiq, yang keduanya merupakan warisan Yunani atau membangun aqidahnya di atas pendapat-pendapat manusia, atau qiyas (analogi), maka pasti akan terjadi penyimpangan dan perbedaan dalam aqidah. Padalah Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.(QS. Ali Imran : 103).

E.      PENYIMPANGAN DALAM AQIDAH

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah perkara yang berbahaya dan sangat mencelakakan, karena aqidah yang benar adalah faktor pendorong untuk melakukan amalan yang bermanfaat. Lantas apa jadinya jika aqidah yang merupakan pendorong amal shalih tersebut rusak dan menyimpang…?

Individu yang tidak memiliki aqidah yang benar, maka ia akan seperti binatang buas yang dipenuhi kebingungan dan keraguan yang terus bertumpuk. Hal ini akan mengakibatkan tertutupnya pandangan yang benar guna menempuh hidup yang bahagia. Sehingga kehidupannya menjadi sempit sampai ia tidak bisa keluar darinya, kemudian ia berusaha keluar dari kesempitan tersebut dengan mengakhiri  kehidupannya. Sebagaimana ini adalah kenyataan kebanyakan dari individu-individu yang tidak diberi hidayah aqidah yang benar.

Oleh karena itu, masyarakat yang tidak dibangun dengan aqidah yang benar, maka mereka seperti ‘masyarakat binatang’ yang tidak memahami perkara yang akan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang bahagia. Hal ini sebagaimana bisa disaksikan pada kehidupan orang-orang kafir, meskipun mereka memiliki hal-hal yang bisa membawa kehidupan mereka kepada kebahagiaan yang sifatnya materi. Akan tetapi, itu semua akan menyeret mereka kepada kebinasaan. Karena bagaimanapun juga faktor materi butuh kepada timbangan dan petunjuk agar bisa bermanfaat. Dan tidak bisa membimbingnya kecuali aqidah yang benar.

Bersambung Insya Allah..

RIDWAN ABU QATADAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: