Syarat Mendapat Ampunan Dalam Puasa Ramadhan

26 Jun

Gambar

Sebentar lagi kita akan menyambut Ramadhan, bulan penuh rahmat dan pengampunan.

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena harapan (akan pahala dari-Nya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan keutamaan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Apa keutamaannya? Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Enak, bukan?

Tapi ada syaratnya, apa itu?

Al-Hafizh Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata:

وَالْمُرَادُ بِالْإِيمَانِ الِاعْتِقَادُ بِحَقِّ فَرْضِيَّةِ صَوْمِهِ وَبِالِاحْتِسَابِ طَلَبُ الثَّوَابِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

“Yang dimaksud dengan keimanan dalam hadits artinya meyakini kebenaran tentang wajibnya puasa Ramadhan. Sedangkan yang dimaksud harapan di sini artinya mengharap pahala dari Allah Ta’ala” (Fathulbari juz 4 hal 115)

Jadi, syarat untuk mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan ada 2:

  1. Ia berpuasa Ramadhan dengan meyakini kewajiban puasa tersebut
  2. Ia berpuasa Ramadhan dengan harapan mendapat pahala dari Allah

Artinya, siapa yang berpuasa Ramadhan, tapi tidak meyakini kewajiban puasa Ramadhan, maka ia tidak akan mendapat pengampunan dari Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, bahkan yang ia peroleh justru kemurkaan dari-Nya!

Mengapa begitu? Sebab ia telah kufur, mengingkari salah satu rukun islam!

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas 5 pondasi; syahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula, siapa yang berpuasa Ramadhan, tapi tidak ikhlas, entah karena mengharap pujian atau takut celaan dari orang lain, maka ia pun tidak akan mendapat pengampunan dari Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, bahkan yang ia peroleh justru kemurkaan dari-Nya!

Mengapa begitu? Sebab ia telah menyekutukan Allah Ta’ala  dalam peribadahannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang melakukan suatu amalan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku,  maka Aku tinggalkan ia dan (tidak Aku terima)amal syiriknya itu. ” (HR. Muslim)

Karena itu, mari kita berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan penuh keikhlasan.

ABDULLAH IMAM, LC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: