HUKUM MENGAMBIL UPAH DARI MENGAJARKAN AL-QUR`AN

26 Jun

Gambar

***

          Apakah boleh bagi seseorang menentukan bayaran/upah dari mengajarkan Al-Qur`an?

Syaikh Abdulaziz bin Baz –semoga Allah merahmatinya- pernah ditanya tentang hukum mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur`an..

يسأل السائل عن حكم أخذ الأجرة على تعليم القرآن الكريم؟

الله سبحانه وتعالى أنزل القرآن ليُعمل به وليتدبر وليتعقل كما قال عزَّ وجلَّ: كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ، ولم ينزله سبحانه وتعالى للأكل به، فيقرأ ليعطى أو يسأل به الناس، إنما أنزل للعمل به وتعليمه الناس والأخذ بما فيه من الأوامر وترك ما فيه من النواهي.

ولهذا قال سبحانه: وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ، إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ، فهو أنزل ليعمل به، وليتعقل ويتدبر، ولم يُنزل ليؤكل به وتطلب به الدنيا.

لكن تعليم الناس القرآن يحتاج إلى فراغ وإلى تعب وإلى صبر، فجاز على الصحيح أن يعطى المعلم ما يعينه على ذلك، وليس هذا من التأكل بالقرآن، ولكن هذا من الإعانة على تعليم القرآن.

فإذا وجد من يُعلم القرآن ويحتاج إلى مساعدة فلا بأس أن يعطى من بيت المال، أو من أهل المَحَلَّةِ، أو من أهل القرية، ما يعينه على ذلك حتى يتفرغ، وحتى يبذل وسعه في تعليم أبناء البلد أو أبناء القرية كتاب ربهم عزَّ وجلَّ، وهذا ليس من باب التأكل. ولكن من باب الإعانة على هذا الخير العظيم؛ حتى يتفرغ للتعليم،وحتى يكفى المؤونة حتى لا يحتاج إلى ضياع بعض الأوقات في طلب الرزق وطلب حاجة بيته وأهله، هذا كله من باب التعاون على البر والتقوى.

وكذلك إذا قرأ على المريض ورقاه فلا بأس أن يعطى أيضاً لحديث: ((إن أحق ما أخذتم عليه أجراً كتاب الله))، ولقصة اللَّدِيْغِ الذي قرأ عليه بعض الصحابة واشترطوا جُعلاَ فأمضاه النبي عليه الصلاة والسلام .

فالحاصل أن إعطاء الطبيب الذي يقرأ على الناس ويعالج بالقراءة؛ إعطاءه الشيء على هذا الأمر لا بأس به كما يعطى المعلم، وهذا كله من باب التعاون على ما ينفع الناس.

فالمعلم ينفع الناس بتعليمهم وإرشادهم وتوجيههم، والذي يقرأ على المريض كذلك يحتاج إلى مساعدة حتى يتفرغ لهذا الأمر، ويقرأ على هذا وهذا، وقد جعل الله في كتابه شفاءً لمرض القلوب ومرض الأبدان، وإن كان أنزل في الأصل والأساس لإنقاذ القلوب وتطهيرها من الشرك والمعاصي وتوجيهها للخير.

لكن الله جعل فيه سبحانه وتعالى أيضاً شفاءً لأمراض الأبدان، فجعل كتابه العظيم شفاءً للقلوب وشفاءً لكثير من أمراض الأبدان إذا استعمله المؤمن مخلصاً لله عزَّ وجلَّ، عالماً أنه سبحانه هو الذي يشفي، وأن بيده كل شيء سبحانه وتعالى، فإذا أعطي المعلم ما يعينه وأعطي الراقي الذي يعالج الناس بالرقية ما يعينه فلا بأس بذلك.

 

 

 

Pertanyaan: Seseorang bertanya tentang hukum mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur`an?

Jawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan Al-Qur`an untuk diamalkan, ditadaburi dan direnungi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

(Ini adalah) sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya.” (Q.S. Shaad: 29), Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkannya untuk ‘dijual’, (yakni) seseorang membacanya kemudian diberikan (bayaran) atau meminta kepada manusia (bayarannya). Namun sesungguhnya Dia menurunkan Al-Qur`an hanya untuk diamalkan dan diajarkan kepada manusia, mengambil penjelasan dari setiap perkara yang ada di dalamnya berupa perintah-perintah ataupun meninggalkan apa saja berupa larangan-larangan yang dijelaskan oleh-Nya.

            Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Q.S. Al-An’am: 155), dan firman-Nya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Q.S. Al-Israa`: 9). Al-Qur`an ini diturunkan oleh Allah agar diamalkan, direnungi dan ditadaburi. Tidaklah Al-Qur`an ini diturunkan untuk ‘dijual’ dan digunakan untuk mencari kesenangan dunia.

            Namun mengajarkan Al-Qur`an kepada manusia itu membutuhkan waktu luang, keletihan dan kesabaran, maka menurut pendapat yang shahih (benar) diperbolehkan untuk memberikan kepada seorang pengajar (Al-Qur`an) sesuatu yang dapat membantunya memenuhi kebutuhannya dan ini bukan termasuk ‘menjual’ (ayat) Al-Qur`an, tetapi ini termasuk perbuatan tolong-menolong atas pengajaran Al-Qur`an.

            Apabila didapati seseorang yang mengajarkan Al-Qur`an dan ia membutuhkan bantuan, maka tidak mengapa untuk memberikan kepadanya sesuatu yang dapat mencukupinya (yang di ambil) dari baitul mal, atau dari segolongan manusia, atau dari penduduk suatu daerah sampai ia selesai dari mengajarkan Al-Qur`an (kepada mereka), sehingga ia dapat mengerahkan segala kemampuannya untuk mengajarkan kitab Rabb mereka (Al-Qur`an) kepada generasi suatu negeri atau generasi suatu daerah. Sekali lagi ini bukan termasuk perbuatan ‘menjual’ (ayat) Al-Qur`an, namun termasuk dalam bab tolong-menolong atas kebaikan yang besar ini sehingga ia selesai mengajarkannya dan kebutuhan hidupnya pun tercukupi sehingga ia tidak menyia-nyiakan sebagian waktunya untuk mencari rezeki dan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keluarganya. Ini semua masuk dalam bab tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan, demikian pula apabila seseorang yang membacakan ayat Al-Qur`an dan meruqyah orang yang sakit maka tidak mengapa hukumnya memberikan upah padanya, berdasarkan hadits:

((إن أحق ما أخذتم عليه أجراً كتاب الله))

Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak untuk kalian ambil sebagai upah adalah kitab Allah.”[1] Berdasarkan kisah seorang yang disengat kalajengking lalu dibacakan ruqyah oleh sebagian sahabat namun ia mensyaratkan (kepada orang tersebut) adanya upah dan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun membiarkannya.

            Maka kesimpulannya adalah bahwa memberikan sesuatu kepada seseorang yang telah membacakan kepada manusia dan mengobati mereka dengan bacaan Al-Qur`an; memberikan upah kepadanya untuk perkara ini maka (hukumnya) tidak mengapa, sebagaimana memberikan upah kepada seorang pengajar (Al-Qur`an), ini semua masuk dalam bab tolong-menolong pada perkara yang dapat bermanfaat bagi manusia.

            Seorang pengajar Al-Qur`an memberikan manfaat kepada manusia dengan cara mengajarkan, membimbing dan memberi pengarahan kepada mereka. Dan orang yang membacakan Al-Qur`an kepada orang yang sakit demikian pula keadaannya ia membutuhkan bantuan sehingga ia dapat menyelesaikan kesibukannya ini. Ia membacakan kepada ini dan itu, Allah telah menjadikan kitab-Nya penyembuh bagi setiap penyakit hati dan badan, meskipun pada asalnya Dia menurunkan (Al-Qur`an) untuk menyelamatkan hati dan menyucikannya dari penyakit kesyirikan serta kemaksiatan dan mengarahkannya kepada kebaikan.

            Namun Allah juga menjadikan pada Al-Qur`an tersebut penyembuh bagi penyakit badan, Dia menjadikan kitab-Nya yang mulia itu penyembuh bagi penyakit-penyakit hati dan penyembuh bagi banyak penyakit badan. Jikalau seorang mukmin melakukannya dalam keadaan ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengetahui bahwa Dialah Yang Maha menyembuhkan, bahwa di tangan-Nyalah segala sesuatu (niscaya akan nyata hasilnya). Maka apabila seorang pengajar diberikan sesuatu yang dapat membantunya dan seorang peruqyah juga diberikan sesuatu yang dapat membantunya lantaran ia mengobati manusia dengan cara meruqyah, maka hukumnya tidak mengapa..”

 

Alih bahasa: Abu Umair bin Hadi


[1]  Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dalam Shahih-nya kitab ath-Thibb, bab asy-Syarth fii ar-Ruqyah bi Qathii’ min al-Ghanam (no. 5737).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: