ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN

26 Jun

Islam adalah ajaran yang mudah. Inilah karakter agama kita yang mambedakannya dengan ajaran yang lain, dalil-dalil berupa ayat dan hadits akan hal ini banyak sekali, bahkan diriwayatkan dalam beberapa hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada sebagian sahabatnya yang berlebih-lebihan dalam beragama. Dan di antaranya ayat Al-Qur’an yang menegaskan prinsip ini (yang artinya);

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. (QS.Thaaha; 1-2)

Dan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Sesungguhnya  agama ini mudah, tidak seorang pun yang berlebih-lebihan dalam agama ini kecuali sikapnya akan membinasakan dirinya sendiri”.

            Di antara kemudahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah disyariatkannya untuk mereka suatu ibadah yang mengantarkan mereka kepada ketakwaan dan surga-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Ayat ini menerangkan bahwa di antara jalan untuk menggapai ketakwaaan adalah dengan berpuasa. Dan Allah Ta’ala mensyariatkannya bukan untuk menyulitkan hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman ketika mewajibkan puasa bagi hamba-hamba-Nya (yang artinya);

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

            Ketika Abu Umamah –semoga Allah meridhainya- berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tunjukilah padaku suatu amalan yang dapat mengantarkanku ke dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berpuasalah, karena ibadah ini  tidak ada tandingannya.”

            Maka apabila telah jelas bagi kita akan keutamaan ibadah ini, penting bagi kita untuk mengetahui tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakannya agar ibadah kita tidak sia-sia dan diterima oleh Allah  Ta’ala. Agar ibadah kita diterima Allah Ta’ala ada dua syarat yang harus dipenuhi:

  1. Ikhlas, melakukan murni hanya karena Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

 

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya””. (QS. Al Kahfi : 110)

 

  1. Mutaba’ah, artinya selaras dan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“Barang siapa mengada-ngadakan suatu amalan di dalam agama ini yang merupakan darinya maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaqun ‘Alaihi dan dalam riwayat Muslim.

 

“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amalan tersebut tertolak”.

 

Begitu pula halnya dengan  ibadah puasa, pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tuntunan beliau di bulan yang penuh berkah ini,

 

  1. Ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Karena demikianlah dahulu para nabi dan orang-orang shalih beribadah, seperti yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an,

 

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (QS. Al Anbiya : 90)

 

Yaitu berharap ibadah diterima oleh Allah Ta’ala dan diganjar dengan pahala dan cemas ibadahnya tidak diterima. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Barang siapa puasa Ramadhan, dengan keimanan dan ihtisab (mengharapkan pahala) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun’alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.

 

Jadi  harus dengan ihtisab agar amal ibadah kita mendapat ganjaran pahala dari Allah Ta’ala.

 

  1. Meniatkan puasa di malam hari. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Barang siapa yang tidak meniatkan puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”. HR. Abu Daud dari Hafshah Radhyallahu’anha.

 

Ini berlaku untuk puasa wajib dan waktunya kapan saja dimulai sejak tenggelamnya matahari sampai sebelum terbitnya fajar. Dan cukup dilakukan sekali di bulan Ramadhan kecuali apabila puasanya terputus maka diniatkan sekali lagi. Dan tempatnya niat adalah di dalam hati, karena niat adalah amalan batin dan bukan amalan lahir.

 

  1. Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Di antara kemudahan Islam dan bukti besarnya karunia Allah Ta’ala kepada kita adalah disyariatkannya makan sahur dalam menjalankan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Sahurlah kalian karena pada makan sahur ada berkah”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Anas Radyiyallahu’anhu. Dan dalam hadist yang lain,

 

“Sesungguhnya (sahur) ini adalah berkah yang Allah berikan pada kalian, maka jangan sekali-kali kalian meninggalkannya”. HR. Ahmad dari Abdullah bin Harits dari seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Yang Sunnah dalam makan sahur adalah mengakhirkannya dan sebaik-baik menu sahur bagi  seorang mukmin adalah kurma, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Sebaik-baik sahurnya mukmin adalah kurma”. HR. Abu Daud dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.

 

Dan apabila tidak ada maka hendaknya ia berupaya untuk tetap sahur walau dengan seteguk air, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air”. Dari Abu Said Al Khudri Radyiyallahu’anhu.

 

Adapun berbuka, justru yang Sunnah adalah menyegerakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. Muttafaqun’alaihi dari Sahl Sa’d Radyiyallahu’anhu.

 

Di antara tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbuka adalah berbuka dengan ruthab (kurma basah), kalau tidak dapat maka dengan kurma kering, apabila tidak dapat maka dengan air dan berbuka sebelum melaksanakan shalat maghrib. Anas bin Malik Radyiyallahu’anhu berkata,

 

“Dahulu Nabi berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma setengah matang) sebelum beliau shalat, apabila tidak ada, maka dengan kurma, apabila tidak ada beliau minum dengan beberapa teguk air”. HR. Ahmad dari Anas Radyiyallahu’anhu.

 

  1. 4.     Menahan diri dari perbuatan keji dan ucapan kotor. Karena yang dimaksud dengan puasa selain menahan diri dari lapar, haus, dan hubungan suami istri. Puasa juga berarti menahan diri dari melakukan dosa dan kemaksiatan, menahan lisan dari dusta, perkataan kotor dan kekejian. Apabila ia bicara, berbicara dengan ucapan yang merusak puasanya. Dan apabila ia beraktifitas, ia tidak mengerjakan sesuatu yang merusak puasanya, sehingga ucapannya baik dan amalannya pun juga shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Barang  siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya”. HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah Radyiyallahu’anhu. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Puasa itu bukan dari makan dan minum. Melainkan puasa hanyalah dari perbuatan sia-sia dan kotor. Maka apabila seseorang mencacimu atau melakukan kebodohan kepadamu, maka katakanlah; sesungguhnya saya sedang puasa”. HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim dari Abu Hurairah Radyiyallahu’anhu.

 

  1. Dahulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan dan semakin bertambah kedermawanan beliau di bulan Ramadhan, hal ini seperti yang dikisahkan oleh Ibnu Abbas Radyiyallahu’anhuma.

“Dahulu Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasalam adalah manusia yang paling dermawan, dan semakin bertambah dermawannya ketika bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril datang padanya. Dan dahulu Jibril datang pada setiap malam di bulan Ramadhan, mengajari Rasulullah Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah ketika itu cepat dalam kebaikan dari angin yang tertiup”. Muttafaqun’Alaihi.

Selain kedermawanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, hadits ini juga menceritakan kepada kita bahwa di bulan Ramadhan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca Al-Qur’an dan melakukan berbagai macam kebaikan. Demikianlah hendaknya seorang musim yang ingin menggapai keridha’an Rabbnya, ia  menjadikan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya pedoman. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Alla”. (QS. Al Ahzab : 21)

Wallahu alam bis shawab.

RIDWAN ABU QATADAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: