SYARAT DITERIMANYA AMALAN

17 Jun

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَّا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ؛ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ. وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا؛ أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )) متفق عليه.

Dari ‘Umar bin al-Khaththab –semoga Allah meridhainya- ia berkata; ”Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung (hanya) kepada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan, barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan Rasul-Nya; maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya itu untuk tujuan dunia yang ia kejar, atau karena seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia berhijrah padanya.’

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ )) متفق عليه.

Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata; “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-adakan amalan (suatu ibadah) dalam urusan kami ini yang bukan termasuk bagian dari agama, maka amalan tersebut tertolak.’

        Dua hadits yang mulia ini mencakup ke dalamnya seluruh aspek agama; pokok-pokok dan cabang-cabangnya, lahir maupun batinnya. Hadits ‘Umar merupakan timbangan bagi amalan batin, sedangkan hadits ‘Aisyah merupakan timbangan amalan lahiriyah.

        Dalam dua hadits ini terdapat bentuk perintah untuk memurnikan ibadah (hanya) kepada Allah dan mencontoh tatacara penerapan ibadah kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana keduanya merupakan syarat untuk setiap perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin. Barangsiapa yang mengikhlaskan seluruh amalannya (hanya) kepada Allah dalam keadaan mencontoh tata cara realisasi amalan tersebut kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka amalan ini merupakan amalan yang diterima. Kemudian siapa yang terluput darinya kedua syarat, atau salah satu dari keduanya, maka amalannya tertolak, hal ini masuk dalam firman Allah Ta’ala:

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَنْثُوْرًا

Dan Kami akan perlihatkan segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amalan itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Q.S. Al-Furqan: 23), terkumpul pada firman Allah Ta’ala berikut dua sifat di atas:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيْنًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ للهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ …

Dan siapakah yang paling baik agamanya dibanding dengan orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang ia mengerjakan kebaikan[1]..” (Q.S. An-Nisa`: 125), Allah Ta’ala berfirman:

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ للهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan ia berbuat baik, ia mendapat pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah: 112).

  • Adapun niat, maka niat adalah: maksud suatu amal perbuatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, mencari keridhaan-Nya dan pahala-Nya. Karenanya masuk dalam poin ini adalah niat suatu amalan dan niat perkara yang diamalkan.

Adapun niat amalan, maka thaharah dan jenis-jenisnya, shalat, zakat, puasa, haji dan seluruh ibadah tidak akan sah melainkan dengan memaksudkan dan meniatkannya, lalu seseorang meniatkan ibadah tertentu. Apabila ibadah tersebut mengandung kepada beberapa jenis dan macam, seperti shalat, yang mana di antaranya ada yang fardhu, nafilah mu’ayyan dan nafilah mutlak. Maka (pada jenis dan macam shalat) yang bersifat mutlak cukup hanya meniatkan dengan niat shalat (saja). Adapun untuk shalat yang sifatnya mu’ayyan (tertentu); berupa fardhu ataupun nafilah mu’ayyan –seperti shalat witir, atau shalat rawatib- maka harus disertai niat untuk shalat yang tertentu itu, demikianlah pada seluruh ibadah.

Diharuskan juga membedakan suatu ibadah dari ibadah lainnya. Misalkan mandi, mandi terkadang untuk tujuan membersihkan diri dan menyegarkan badan, terkadang pula untuk tujuan bersuci dari hadats besar, mandi karena memandikan mayit, untuk shalat jum’at dan yang semisalnya. Maka seseorang harus meniatkan ketika mengerjakan amalan tersebut ditujukan untuk mengangkat hadats, atau untuk mandi yang sifatnya mustahab (disukai). Demikian pula seseorang yang mengeluarkan beberapa dirham misalkan untuk zakat, atau untuk membayar kafarat, atau untuk nadzar, atau untuk bersedekah mustahab, atau untuk hadiah. Maka yang dianggap dalam hal ini adalah niatnya.

Termasuk juga muslihat (tipu daya) dalam muamalah apabila seseorang berinteraksi dengan orang lain dengan suatu muamalah yang lahiriyahnya dan gambarannya adalah benar, namun ia meniatkan dari muamalah itu sebagai wasilah (perantara) menuju muamalah ribawi, atau ia meniatkannya untuk menggugurkan suatu kewajiban, atau sebagai perantara menuju keharaman. Maka yang dianggap dalam hal ini adalah niat dan maksudnya itu, bukan lahiriyah dari ucapannya; karena sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah berdasarkan niatnya. Hal itu lantaran ia mengumpulkan kepada salah satu dari dua pergantian yang tidak ia maksudkan, atau mengumpulkan satu ikatan dengan ikatan lainnya yang tidak ia maksudkan. Inilah yang dijelaskan oleh syaikhul islam.

Demikian pula Allah mensyaratkan dalam masalah rujuk (dalam pernikahan) dan masalah wasiat: yaitu bahwa seorang hamba tidak meniatkan pada keduanya kemudaratan.

Masuk dalam perkara tersebut seluruh perantara yang dijadikan wasilah untuk mencapai yang diniatkan; karena setiap wasilah itu memiliki hukum-hukum tersendiri, benar atau tidaknya. Dan Allah mengetahui maslahat dari kemudaratan yang ada.

Adapun niat perbuatan yang dilakukan: yaitu keikhlasan kepada Allah pada seluruh perbuatan yang dikerjakan oleh seorang hamba maupun yang ia tinggalkan, pada setiap apa yang ia katakan dan lakukan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Dan mereka tidak diperintah melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5), Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا للهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ

Ketahuilah, hanya milik Allah sajalah agama yang murni.” (Q.S. Az-Zumar: 3).

        Hal itu dikarenakan wajib bagi seorang hamba untuk meniatkan dengan niat secara keseluruhan dan mencakup setiap perkara, ditujukan dengan niat tersebut wajah Allah, bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya, mencari pahala-Nya, mengharapkan balasan-Nya, serta takut dari hukuman-Nya. Kemudian ia menggandengkan niat ini pada setiap bentuk amalan-amalannya dan ucapannya, serta seluruh keadaannya, gigih dalam mengimplementasikan keikhlasan dan menyempurnakannya, serta menolak apa yang menjadi kebalikannya; riya`, sum’ah (ingin didengar), ingin dipuji di hadapan makhluk, serta mengharapkan sanjungan mereka, bahkan jika terjadi padanya sesuatu dari itu semua maka seorang hamba tidak boleh menjadikan itu sebagai tujuannya, puncak harapannya, bahkan (seharusnya) yang menjadi tujuan asal darinya adalah wajah Allah dan ganjaran-Nya tanpa menoleh pada makhluk, tidak pula mengharapkan adanya manfaat dari mereka atau pujian dari mereka. Jika terjadi sesuatu dari hal-hal tersebut tanpa ada niatan dari seorang hamba, maka itu tidak akan membahayakannya, bahkan itu termasuk kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.

        Sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Sesungguhnya amalan itu hanya tergantung dari niatnya..” Yaitu; bahwa amalan itu tidak akan ada dan terjadi melainkan disertai dengan niat, bahwa poros perputaran amalan itu berdasarkan niatnya. Kemudian beliau bersabda: “Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu tergantung dari apa yang ia niatkan..” Yaitu; sesungguhnya amalan itu dinilai sesuai dengan niatnya seorang hamba baik atau rrusaknya amalan tersebut, sempurna atau kekurangannya amalan tersebut. Maka barangsiapa yang meniatkan untuk berbuat kebaikan dan memaksudkan perbuatannya itu kepada tujuan-tujuan tinggi –yaitu segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah-, maka baginya ganjaran dan pahala; ganjaran sempurna lagi mencukupi. Barangsiapa yang kurang niatnya dan tujuannya maka tentulah pahalanya pun kurang. Barangsiapa yang niatnya menghadap kepada selain tujuan yang mulia ini maka niscaya kebaikan pun terluput darinya, dan ia mendapatkan apa yang ia niatkan berupa tujuan-tujuan duniawi yang amat kurang.

        Oleh karenanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– membuat berbagai permisalan untuk menganalogikan seluruh perkara kepada hal tersebut. Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda: ”Dan barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya..” Yaitu; ia mendapatkan apa yang ia niatkan dan ganjarannya diserahkan kepada Allah. “Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia gapai atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengkhususkan padanya penyebutan wanita yang ingin dinikahi setelah menyebutkan seluruh keumuman perkara duniawi untuk menjelaskan bahwa seluruh itu merupakan tujuan-tujuan yang rendah dan maksud-maksud yang tidak bermanfaat.

        Demikian pula ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ditanya tentang seseorang yang berperang dengan gagah berani, atau dengan bangga, atau agar dilihat oleh orang lain posisinya di medan perang “Apakah yang dimaksud dengan jihad fi sabilillah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab: “Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah tinggi maka itulah yang dimaksud di jalan Allah.” Allah Ta’ala berfirman:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَتَثْبِيْتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ ۝

Dan permisalan orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam rangka mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat.” (Q.S. Al-Baqarah: 265). Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ رِئَآءَ النَّاسَ وَلَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۝

Dan orang-orang yang menginfakkan harta mereka dalam keadaan ingin diliat oleh manusia dan mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Q.S. An-Nisa`: 38). Demikianlah pada seluruh amalan.

        Amalan itu sesungguhnya dapat bertambah dan berkembang pahalanya sesuai dengan apa yang ada pada hati orang yang mengamalkannya berupa keimanan dan keikhlasan, sehingga pemilik niat yang benar –terkhusus apabila bersambung dengan niatnya itu amalan yang ia mampu amalkan- pemilik niat yang benar itu menggandengkan amalannya dengan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ ۝

“Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam rangka berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya kemudian ajal menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah menjadi tanggungan Allah.” (Q.S. An-Nisa`: 100).

        Dalam Shahih secara marfu’ disebutkan (yang artinya): “Apabila seorang hamba sedang sakit atau bersafar maka ditetapkan baginya apa yang senantiasa ia lakukan tatkala sehat dan mukim.”, “Sesungguhnya di kota tersebut ada suatu kaum tidaklah kalian berjalan dalam sebuah perjalanan, tidak pula memotong suatu lembah melainkan mereka senantiasa bersama kalian –yaitu: dalam niat mereka dan hati mereka, serta pahala mereka- namun suatu udzur (alasan) menahan mereka.” Apabila seorang hamba menghendaki kebaikan kemudian amalan tersebut tidak ditakdirkan baginya maka keinginannya tersebut dicatat dan niatnya sebagai suatu kebaikan yang sempurna.

        Berbuat baik kepada makhluk dengan harta, perkataan dan perbuatan merupakan kebaikan, pahala dan ganjarannya ada di sisi Allah. Namun pahalanya semakin bertambah besar disebabkan oleh niatnya. Allah Ta’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِالصَّدَقَةِ أَوْ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۝

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (Q.S. An-Nisa`: 114), yaitu: sesungguhnya hal itu lebih baik, kemudia Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْمًا ۝

Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami beri padanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa`: 114). Allah mengurutkan pahala yang besar atas perbuatan itu dalam rangka mencari keridhaan-Nya. Dalam Shahih al-Bukhari secara marfu’ (yang artinya): “Barangsiapa yang mengambil harta manusia yang akan ia tunaikan, niscaya Allah akan menunaikan untuknya. Namun barangsiapa yang mengambilnya untuk ia musnahkan, niscaya Allah akan memusnahkannya.” Lihatlah bagaimana Allah menjadikan niat yang benar sebagai sebab dominan kepada rezeki dan penunaian Allah kepadanya, serta menjadikan niat buruk sebagai sebab kepada rusak dan pengrusakan (apa yang diniatkan).

        Demikian pula niat berjalan pada permasalahan-permasalahan yang mubah dan perkara-perkara duniawi. Maka siapa yang menghendaki untuk menggapainya dan untuk tujuan-tujuan duniawi, serta kebiasaan-kebiasaan yang membantunya untuk menunaikan hak Allah, serta menunaikan kewajiban-kewajiban dan perkara-perkara mustahab, ia menggandengkan niat yang baik ini dalam makan, minum, tidur, istirahat dan usaha-usahanya; maka kebiasaan-kebiasaan itu berubah dengan sendirinya menjadi bentuk-bentuk ibadah dan Allah memberikan keberkahan kepada seorang hamba dalam amalannya tersebut, dibukakan baginya pintu-pintu kebaikan dan rezeki (yakni) perkara-perkara yang tidak ia sangka-sangka dan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tetapi barangsiapa yang luput niat yang baik ini lantaran tidak mengetahui atau menganggapnya remeh maka janganlah ia mencela kecuali dirinya. Dalam Shahih disebutkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah mengamalkan suatu amalan yang kamu niatkan dengannya untuk mencari wajah Allah melainkan kamu akan diberi balasannya atas amalan tersebut, sampai-sampai apa yang kamu masukkan dalam mulut istrimu.”

        Maka dari sini diketahui bahwa hadits ini mencakup seluruh perkara kebaikan. Hak-hak terhadap seorang mukmin yang menginginkan keselamatan dirinya serta bermanfaat, maka hendaklah ia memahami makna hadits ini, hendaknya pengamalan hadits tersebut benar-benar tergambar di kedua pelupuk matanya dalam seluruh keadaan dan waktu-waktunya.

        Adapun hadits ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya-: Maka sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (yang artinya): “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perbuatan dalam agama kami ini sesuatu yang tidak termasuk bagian darinya maka perbuatan tersebut tertolak.” Atau “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalannya itu tertolak.” Dalilnya ditunjukkan dengan manthuq dan mafhum hadits.

        Manthuq haditsnya adalah hadits ini menunjukkan bahwa setiap perkara yang diada-adakan (muhdats) di dalam agama yang tidak memiliki asalnya dalam Al-Qur`an dan Sunnah, baik itu berasal dari perkara-perkara yang diucapkan (yang diada-adakan dalam agama) bersifat ilmu kalam, seperti pemikiran Jahmiyyah, Rafidhah, Mu’tazilah dan selainnya, atau dari perbuatan-perbuatan (yang diada-adakan dalam agama) yang bersifat amaliah (praktek), seperti beribadah kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah, tidak pula oleh rasul-Nya. Maka semua ini tertolak dari pelakunya, pelakunya tercela sesuai dengan tingkat perbuatannya mereka itu dan jauhnya dari agama. Barangsiapa yang mengabarkan dengan suatu yang tidak Allah kabarkan dan tidak pula rasul-Nya, atau beribadah dengan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah dan rasul-Nya, serta tidak disyari’atkan: maka itulah perbuatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang mengharamkan perkara-perkara mubah, atau beribadah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan, maka itu pun sesuatu yang menyimpang.

        Adapun mafhum hadits ini adalah bahwa orang yang mengamalkan suatu amalan yang ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya –beribadah kepada Allah dengan akidah yang benar dan amalan shalih, berupa perintah wajib dan mustahab, maka amalannya diterima dan usahanya membuahkan hasil.

        Hadits ini menunjukkan bahwa setiap ibadah yang dikerjakan berdasarkan aspek yang dilarang maka ibadah tersebut rusak; karena di situ tidak ada perintah dari syari’at, sedangkan perkara yang dilarang menuntut kepada rusaknya perkara tersebut. Setiap muamalah yang dilarang oleh syari’at maka muamalah itu sia-sia dan tidak teranggap.

        Allah Ta’ala a’lam bi ash-shawab mudah-mudahan bermanfaat..

[Bahjah Qulub al-Abrar wa Qurrati ‘Uyun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhyar, syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy, hal. 5-10]

ABU ‘UMAIR BIN HADI

 


[1] Dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy –semoga Allah merahmatinya- dalam tafsirnya: “Mengerjakan kebaikan adalah mencontoh syari’at Allah, yang Allah mengutus para rasul-Nya untuk mengembang syari’at tersebut …” (Taysiir Kariim ar-Rahmaan, hal. 223).

Nb: Jika menurut Anda artikel ini bagus silahkan lakukan polling dan tinggalkan komentar pada tempat yang disediakan, kemudian sebarkan kepada orang lain..

Jazakumullah khayran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: