Keutamaan dan Faedah Bersyukur

17 Jun

 

Sekali lagi ingatlah akan kenikmatan Allah dan bertaqwalah kepada-Nya:

يَأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ ۚ  لَآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّى تُؤْفَكُوْنَ

Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?.” (Fathir : 3).

            Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَمَا فِيْ الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِيْ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيْرٍ

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi, serta menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” (Luqman : 20).

Allah Ta’ala telah menumpahkan kenikmatan dan karunia kepada kita dan memerintahkan kita untuk mensyukurinya serta berjanji akan menambah kenikmatan-Nya kepada kita, sebagaimana Allah Ta’ala juga mengancam kepada siapapun yang mengkufuri nikmat dengan siksaan yang pedih. Maka perhatikanlah sikap-sikap kita terhadap nikmat Allah dan lihatlah orang-oarang yang telah mendahului kita, yang ada di sekeliling kita; yaitu mereka yang mengingkari dan mengkufuri nikmat Allah, berbuat kerusakan di muka bumi, mengganti kenikmatan dengan laknat dan kemurkaan, kecukupan dan keluasan rizki dengan kemiskinan dan kesempitan hidup, rasa aman tentram dengan rasa takut dan kekhawatiran …. Waspadalah dari apa yang telah menimpa kepada mereka, jangan sampai kemurkaan Allah Ta’ala menimpa kita. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ۝ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا ۖ وَبِئْسَ الْقَرَارُ ۝ وَجَعَلُوْا للهِ أَنْدَادًا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِهِ ۗ قُلْ تَمَتَّعُوْا فَإِنَّ مَصِيْرَكُمْ إِلَى النَّارِ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, (Yaitu) neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”.” (Ibrahim : 28-30)

Kebahagiaan dan kemuliaan bagi orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmat-Nya dan akan mendapat keutamaan-keutamaan yang besar :

  1. Disifati dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang diridhai-Nya dan dicintai-Nya, serta akan Dia akan memberikan pahala kepada hamba-Nya itu disebabkan hal tersebut.
  2. Akan selamat dari azab Allah.

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah (Dzat) Maha mensyukuri lagi Maha mengetahui.” (An Nisaa : 147).

  1. Akan mendapat pahala yang besar.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوْتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِيْ الشَّاكِرِيْنَ

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, maka Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran : 145).

  1. Berarti menjawab seruan Allah Ta’ala dengan melakukan perintah-Nya yang Allah Ta’ala telah perintahkan hamba-Nya untuk bersyukur.
  2. Bersyukur merupakan sebab terjaganya nikmat dan bertambah, agungnya keberkahan-Nya serta keindahan manfaatnya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu menyerukan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (Ibrahim : 7).

  1. Bersyukur merupakan tanda orang-orang yang berakal.

إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ ۝

…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Ibrahim : 5).

  1. Orang yang bersyukur hakikatnya untuk dirinya sendiri dan akan mengangkat derajatnya

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لَيَبْلُوَنِّي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ ۝

Ini merupakan kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha kaya lagi Maha mulia.” (An Naml : 40).

  1. Berterima kasih kepada manusia berarti bersyukur kepada Allah Ta’ala.
  2. Bersyukur berarti mengikuti jejak para Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, menapaki jalan orang-orang yang selalu bersyukur dari kalangan para Nabi dan orang-orang shalih.
  3. Bersyukur adalah perkara yang diridhai Allah dan ridha terhadap para pelakunya.

إِنْ تَكْفُرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْ ۝

Jika kamu kufur maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (keimanan) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu rasa syukurmu itu.” (Az Zumar : 7).

  1. Bersyukur berarti melawan syaitan dan menghinakannya serta membongkar maker dan tipu dayanya. Karena syaitan selalu berusaha untuk memalingkan manusia dari bersyukur.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِيْ لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ ۝

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf : 16-17).

  1. Bersyukur adalah setengah dari iman. Termasuk kesempurnaan iman seseorang adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala, karena iman terbagi dua; setengahnya adalah sabar dan setengah lagi syukur.
  2. Bersyukur sebagai dalil bagi kesempurnaan akalnya, kebersihan pikiran dan jiwanya, kerena barangsiapa yang mengenal keagungan Yang memberi nikmat (Allah), memperhatikan kemuliaan anugerah-Nya serta keluasan pemberian-Nya, tentulah merupakan keharusan baginya untuk selalu bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya juga selalu mengingat-Nya dan tidak melalaikan-Nya.

Faidah-faidah Rohani dari bersyukur :

  1. Bersyukur akan menyebabkan bersihnya jiwa manusia dan kesuciannya.
  2. Bersyukur akan membuka pintu hubungan dengan Allah Ta’ala.
  3. Bersyukur akan membiasakan manusia untuk membalas kebaikan dan mengakui kebaikan orang lain, serta mengarahkan kehendak dan keinginannya kepada kebaikan, baik untuk dirinya juga untuk semua manusia.
  4. Bersyukur merupakan manhaj dan prinsip yang baik  dan selamat dalam menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala dan membelanjakannya pada jalan-jalan yang disyari’atkan.

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ ۝

Maka ia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan ia berdoa: “Wahai Rabbku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An Naml : 19).

رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ إِنِّيْ تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝

Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, agar aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqaaf : 15).

Wallaahu a’alam bishawab

RIDWAN ABU QATADAH

Nb: Jika menurut Anda artikel ini bagus silahkan lakukan polling dan tinggalkan komentar pada tempat yang disediakan, kemudian sebarkan kepada orang lain..

Jazakumullah khayran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: