BERSYUKUR

7 Jun

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Nikmat Allah Tiada Terhingga..

Begitu banyaknya kenikmatan Allah Ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-hambanya tiada terhingga dan tidak terhitung. Dan demikian luasnya rahmat Allah Ta’ala yang diturunkan ke muka bumi ini untuk seluruh makhluknya. Khususnya kepada bangsa manusia, berupa nikmat bentuk manusia yang paling baik.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4).

Dan manusialah yang pertama kali disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Al’Alaq :1-2)

Allah Ta’ala telah memberikan segala fasilitas kehidupan yang ada di muka bumi ini ditundukkan untuk manusia:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (Al-Baqarah : 29). Belum lagi kenikmatan-kenikmatan lain baik itu jasmani maupun rohani, berupa pendengaran, penglihatan, semua indra dan anggota tubuh yang sempurna, demikian pula nikmat hidayah iman, islam, bisa memahami tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkannya dalam setiap sisi kehidupan kita, Maha suci Allah yang tidak terhitung banyaknya.

وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَآ ۗ إِنَّ اللهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)

وَءَاتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَآ ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34 )

Kewajiaban Bersyukur

Bersyukur merupakan kewajiban setiap hamba Allah Ta’ala kepadaNya sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Ibrahim: 7)

Dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala sangatlah banyak:

فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

Berkata Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- : “Ingatlah kepadaKu dengan menaatiKu, niscaya Aku akan mengingatkanmu dengan pertolonganKu.”

Dari Zaid bin Aslam bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam berkata : “Wahai Rabbku, bagaimana aku bersyukur kepadaMu? Allah berfirman kepadanya: “Kamu mengingatKu dan tidak melalaikanKu, jika engkau telah mengingatKu berarti engkau telah bersyukur kepadaKu, namun jika engkau melalaikanKu berarti engkau telah mengkufuriKu.” Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- : “Ingatlah Allah terhadapmu lebih dari ingatnya kamu kepada Allah.

Dalam hadits yang shahih, Allah Ta’ala berfirman : “Barang siapa mengingatKu pada dirinya, niscaya Aku akan mengingatmu pada diriKu dan barang siapa yang  mengingatKu di hadapan khalayak niscaya Aku akan menyebutmu di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka.

وَقُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ شَرِيْكٌ فِيْ الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (Al-Israa : 111).

دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Do’a mereka di dalamnya Ialah: “Maha suci Engkau ya Allah“, dan salam penghormatan mereka Ialah: “Salam”. dan penutup doa mereka Ialah: “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam”. (Yunus : 10).

اعْمَلُوْا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (Saba : 13).

Ayat-ayat Allah Ta’ala sangat banyak sekali yang memerintahkan kita untuk mensyukuri akan kenikmatan-Nya dan tidak mengkufurinya.

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- dalam syarah Riyadhus Shalihin: “Berkata Imam an-Nawawi -semoga Allah merahmatinya- dalam kitab Riyadhus Shalihin dalam bab “Memuji Allah dan mensyukuri nikmat-Nya “ : Memuji  Allah artinya menyifati Allah dengan berbagai pujian dan sifat-sifat sempurna dan menyucikanNya dari berbagai hal yang menafikan sifat-sifat itu dan bertentangan dengannya. Dialah Allah yang berhak dipuji atas semua karunia dan anugerahNya dengan kesempurnaan sifatNya, dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepadaNya. Dan Allah Ta’ala telah memuji diriNya di awal penciptaan makhlukNya, denga firmanNya:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ ۖ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Yang mengadakan gelap dan terang, Namun orang-orang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka.

Dan Allah Ta’ala memuji diri-Nya ketika menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam):

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهُ عِوَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Quran dan Dia tidak menjadikan kebengkokan di padanya.”;

Allah Ta’ala memuji diri-Nya atas kesucian-Nya dari sekutu dan tandingan:

وَقُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ شَرِيْكٌ فِيْ الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” ( Al-Israa : 111).

Hal Yang Mengharuskan Bersyukur

Jika seorang pemuda telah memiliki islam dan kebutuhan pokoknya

Dia dalam kondisi sehat jasmani dan keadaan aman

Sungguh telah memiliki seluruh dunia dan menguasainya

Kewajiban baginya adalah bersyukur pada Allah Yang Maha Memberi

Perhatikanlah penggalan syair di atas yang menunjukan kepada kita hal-hal yang megharuskan kita senantiasa bersyukur kepada Allah Rabbul ‘Izzah yang Maha Memberi, di antaranya adalah:

  1. Islam, yang telah menyelamatkan seorang muslim dari kerugian dan kebinasaan, serta menyukseskannya dalam kebahagiaan. Inilah agama Allah yang Allah telah ciptakan manusia untuk mengikutinya dan tidak menerima agama selain agama Islam. Agama yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah akan kesempurnaannya dan telah diridhai.

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِئَايَاتِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tidak ada perselisihan orang-orang yang telah diberi AlKitab melainkan sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran : 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِيْ الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali-Imran : 85)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al  Ma’idah : 3)

Itulah agama yang mulia, sempurna, universal, yang mengajak kepada kebahagiaan yang abadi dunia dan akherat.

  1. Mendapatkan kebutuhan pokok yang bisa menegakkan jasadnya.

اللهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ

Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).” (Ar Rum : 40)

وَمَا مِنْ دَآبَةٍ فِيْ الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِيْ كِتَابٍ مُّبِيْنٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Huud : 6)

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk : 15)

  1. 3.      Badan yang sehat berupa akal, pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, mulut, dan semua anggota badan, sebagaimana dikatakan : “Sehat adalah mahkota yang ada di kepala orang yang sehat, tidak ada yang mengenalnya kecuali orang yang sakit.”

وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An Nahl : 78)

أَلَمْ نَجْعَلْ لَّهُ عَيْنَيْنِ ۝ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ ۝ وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (Jalan Kebajikan dan Jalan Kejahatan),” (Al Balad : 8-10)

Rukun Bersyukur

Sesungguhnya hakikat dari bersyukur itu adalah memuji kepada yang telah memberi kebaikan. Dan bersyukurnya seorang hamba terhadap Rabbnya tidak lepas tiga pilar, yang seorang hamba tidak dikatakan bersyukur kecuali jika terkumpul padanya tiga pilar ini :

  1. Mengakui kenikmatan Allah dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Bahwa kenikmatan itu merupakan wasilah dari Allah untuk menghubungkan dirinya kepada Allah Ta’ala, sebagai karunia dan anugerah dariNya, bukan dari daya dan kekuatannya sendiri.
  2. Menceritakan kenikmatan itu secara lahiriyah, memuji kepada Allah dan mensyukurinya serta tidak menyandarkan kenikmatan itu kepada selain Allah Ta’ala, seperti kisahnya Qarun ketika dinasehati oleh kaumnya dan mengingkarinya.

إِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوْأُ بِالْعُصْبَةِ أُوْلِيْ الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ ۝ وَابْتَغِ فِيْمَآ ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحَسَنَ اللهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِيْ الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللهَ لَايُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝ قَالَ إِنَّمَآ أُوْتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِيْ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ۝ فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِيْ زِيْنَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوْتِيَ قَارُوْنُ إِنَّهُ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ ۝ وَقَالَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا الصَّابِرِيْنَ ۝ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tidaklah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Al Qashas : 76-81)

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدَثَ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Ad Dhuhaa : 11)

Dalam atsar yang marfu diriwayatkan : “Bahwa barangsiapa yang tidak bersyukur dengan kenikmatan yang sedikit maka tidak akan bersyukur dengan kenikmatan yang banyak, barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia maka hakikatnya tidak bersyukur kepada Allah, menceritakan akan kenikmatan Allah adalah syukur, meninggalkannya adalah kufur, jama’ah (persatuan) adalah rahmat sedang furqah (perpecahan) adalah adzab.“ (HR. Thabrani dan yang lainnya, lihat Majmu’ Zawaaid Al-Haitsami : 8 / 81 -82)

3.      Menggunakan kenikmatan Allah Ta’ala untuk menggapai ridhaNya dan dimanfaatkan dalam ketaatan kepadaNya.

Bersambung Insyallah…

RIDWAN ABU QATADAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: