INILAH 6 SIFAT MANUSIA YANG DILEMPAR KE DALAM JAHANNAM

28 Mei

Gambar

          Kita sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir sudah sepantasnya untuk menjauhi beberapa sifat yang Allah telah sebutkan dalam surat Qaaf ayat 24-26 ini, agar kiranya kita tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang akan dilemparkan ke dalam Jahannam disebabkan mereka memiliki sifat-sifat berikut bahkan jangan sampai kita mendekatinya, lantas apa sajakah enam sifat tersebut ??

Selamat menyimak dan mengambil pelajaran..

            Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman:

﴿ أَلْقِيَا فِيْ جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيْدٍ ۝ مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيْبٍ ۝ الَّذِيْ جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِيْ الْعَذَابِ الشَّدِيْدِ

(Allah berfirman): ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka Jahannam, semua orang yang sangat ingkar lagi keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu, yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah ia ke dalam azab yang keras.’” (Q.S. Qaaf: 24-26).

            Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan sifat-sifat orang yang dilempar ke dalam neraka; Dia menyebutkan ada enam sifat:

            Pertama: Orang yang sangat ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah dan hak-hak-Nya, (orang yang) sangat ingkar terhadap agama-Nya, ketauhidan-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, (orang yang) sangat ingkar dengan kitab-kitab-Nya dan pertemuan dengan-Nya.

            Kedua: Orang yang keras kepala (serta membangkang) terhadap kebenaran dengan cara menolaknya dalam rangka pengingkaran serta pembangkangan.

            Ketiga: Orang yang sangat enggan melakukan kebajikan, ini mencakup keengganannya untuk melakukan kebajikan yang itu merupakan bentuk perbuatan baik untuk dirinya sendiri berupa ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah, sementara kebajikan yang merupakan perbuatan baik untuk manusia lainnya, maka tidak ada lagi kebaikan padanya bagi dirinya maupun bagi orang lain, sebagaimana keadaan kebanyakan manusia.

            Keempat: Bahwasanya -bersamaan dengan keengganannya melakukan kebaikan tersebut- ia melampaui batas terhadap manusia, berlaku zalim dan kejam serta melampaui batas terhadap mereka dengan perbuatan dan ucapannya.

            Kelima: Bersikap ragu-ragu; yakni orang yang bersikap ragu-ragu dan bimbang, bersamaan dengan keempat sifat ini ia senantiasa bersikap penuh keraguan dan kebimbangan, hingga dikatakan: Fulan adalah orang yang ragu, apabila ia selalu bersikap demikian.

            Keenam: Bahwasanya –bersamaan dengan kelima sifat tersebut- ia berbuat syirik kepada Allah (bahkan) benar-benar menjadikan adanya tuhan lain bersama Allah yang ia ibadahi, ia cintai, membenci karenanya dan ridha kepadanya, bersumpah dengan menyebut namanya, bernadzar untuknya, serta memberikan loyalitas dan permusuhan karenanya. Maka ia dan pendampingnya dari golongan syaitan-syaitan saling berseteru, memindahkan urusannya kepada (pendamping) nya dan bahwasanya dialah yang telah memalingkan dan menyesatkan dirinya, maka berkatalah pendampingnya itu: “Aku tidak memiliki kekuatan untuk menyesatkan dan memalingkannya, “tetapi ia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”, ia telah memilih untuk dirinya sendiri, mendahulukan dirinya di atas kebenaran.” sebagaimana perkataan Iblis kepada penghuni neraka:

﴿ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ

Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lantas kamu mematuhi seruanku.” (Q.S. Ibrahim: 22).

            Berdasarkan ayat ini; maka qarin (pendamping) di sini adalah syaitan yang saling berseteru di hadapan Allah..

            Inilah enam sifat yang telah Allah kabarkan dalam ayat yang mulia ini, mudah-mudahan tulisan yang cukup ringkas ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman, sudah selayaknya bagi kita untuk berhati-hati dengan keenam sifat ini karena tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki akal..

(Diringkas dari Fawaa`id al-Fawaa`id, hal. 138-139, cet. Daar Ibni al-Jauzi, KSA)

ABU ‘UMAIR BIN HADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: