AGAMA ADALAH NASEHAT

28 Mei

Gambar

            Pembaca yang budiman, di antara tanda kehinaan dan kebinasaan yang terdapat pada suatu kaum adalah pada saat tidak ada seorang pun yang menasehati mereka. Sehingga mereka berlaku dan berbuat apa saja di muka bumi ini, tanpa aturan dan garis yang benar. Mari kita renungkan keadaan Bani Israil. Bukankah Allah melaknat mereka karena mereka meninggalkan nasehat dan peringatan kepada para ahli maksiat mereka, yang berupa amar ma’ruf dan nahi mungkar?

Berikut ini adalah sepenggal ringkasan nasehat mulia yang disampaikan oleh seorang imam madzhab besar, yang tidak diragukan lagi ketakwaan, ibadah dan kedekatannya dengan Allah, Imam Malik bin Anas –semoga Allah merahmatinya-, kepada seorang khalifah dari Bani Abbasiyyah yang dikatakan pernah mengerjakan shalat sebanyak seribu rakaat dalam setiap harinya sampai meninggal dunia, yang selalu bersedekah sebanyak seribu dinar, yang sangat mencintai para ulama, yang sangat menghormati ajaran agama dan sangat marah saat agama dilanggar, yang sangat membenci perdebatan dan kata-kata yang tidak berguna, serta yang selalu menangisi segala kesalahannya, apalagi saat diberi nasehat.

Dialah khalifah Harun ar-Rasyid –semoga Allah merahmatinya- yang pernah berkata kepada langit, “Wahai langit! Turunkanlah hujanmu di tempat mana pun yang kamu kehendaki, karena hasilmu akan tetap mengalir kepada yang kami.” Selamat membaca dan mengambil faidah darinya..

Bismillah..

Segala puji hanya milik Allah semata. Semoga shalawat dan salam senantiasa tersampaikan kepada Rasul yang mulia, Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga para keluarga dan seluruh sahabatnya.

Wahai Amirul Mukminin! Anggaplah jiwa anda sekarang berada di pintu kematian dan sakaratul maut. Anggaplah anda sedang menghadapi kepedihan rasa sakit yang dialami setiap orang yang hendak meninggal dunia. Pikirkan rasa takut orang-orang yang dibangkitkan di hadapan Allah setelah mereka meninggal dunia, yaitu ketika Allah meminta mereka untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan sewaktu di dunia, satu persatu. Kemudian, anggaplah bahwa amalan anda sedang dihitung satu persatu di hadapan Allah setelah anda mempertanggungjawabkannya. Anggaplah anda berada dalam keabadian setelah hisab (perhitungan amalan) ini, (apakah kekekalan itu berada dalam surga atau neraka?)

Persiapkanlah segala bentuk amal shalih yang mampu anda kerjakan, agar kelak anda selamat dari kecemasan dan rasa takut di hari kiamat. Sungguh! Jika anda melihat keadaan ahli maksiat, keburukan akhir urusan mereka, siksaan Allah kepada mereka, juga saat anda mendengar rintihan dan teriakan mereka dalam neraka, tempat tinggal mereka yang sangat lama di sana, tumpang tindih mereka dengan berjalan di atas wajah dalam keadaan buta dan tuli, ditambah lagi dengan gerutuan dan keluhan.

Yang lebih menyakitkan, ketika Allah berpaling dari mereka dengan putusnya segala harapan, putusnya rahmat Allah dari mereka dan jawaban kosong dari Allah atas segala permintaan mereka. Allah Ta’ala menjawab dengan firman-Nya:

قَالَ اخْسَئُوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ

“Allah berfirman, ‘Tinggallah kalian dengan hina di dalam neraka dan jangan kalian berbicara dengan Aku.’” (Q.S. Al-Mukminun: 108).

            Jika anda melihat keadaan mereka yang memilukan tadi dan ingin selamat dari segala siksa yang menimpa mereka, niscaya anda tidak bergeming sedikit pun saat melihat gemerlapnya dunia dengan segala perhiasannya. Segala harta yang dimiliki oleh semua penduduk bumi tidak ada artinya bagi anda, asal bisa menebus dan menyelamatkan diri anda dari kekalutan dan kecemasan hari akhir itu.

            Ketika anda melihat orang-orang yang taat kepada Allah, serta segala kemuliaan yang mereka peroleh dari Allah Ta’ala, ketinggian derajat mereka di sisi-Nya, kebinar-binaran wajah mereka yang bersinar, kebahagiaan mereka, kedudukan mulia mereka di hadapan Allah, juga saat Allah senantiasa melihat dan memandangi mereka dengan penuh kasih sayang, niscaya menjadi kecil di hadapan anda segala kenikmatan yang anda cari selama ini, yaitu saat anda melihat bahwa semuanya sangat mudah untuk dikabulkan Allah. Maka, takut dan waspadalah selalu! Tanpa merasa tertipu bahwa anda benar-benar telah takut kepada Allah ketika iblis menggoda anda dengan hal itu…

Demikianlah nasehat mulia yang kami ringkas dari kitab berjudul “Al-Mawaa`izh al-Ghaliyah min Rasaa`il al-Imaam Maalik li Haarun ar-Rasyiid”, karya al-Imam Malik bin Anas –semoga Allah merahmatinya-, agar menjadi pengingat bagi kita semua dari segala kelalaian kita dan mewaspadai satu hari yang mana di hari tersebut tidaklah bermanfaat harta maupun anak keturunan, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (yang akan mendapatkan pertolongan dari Allah di hari tersebut).

ABU UMAIR BIN HADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: