ADA APA DENGAN BULAN RAJAB ??

17 Mei

Gambar

Kita menyaksikan pada sebagian kaum muslimin bilamana telah masuk bulan Rajab mereka terlihat begitu antusias menyambutnya, mereka mempersiapkan segala macam persiapan dan kesiapan untuk menyambut serta memarakkan satu bulan dari bulan-bulan yang Allah muliakan ini, mereka adakan berbagai jenis ritual mulai dari shaum (berpuasa), shalat, umrah dan yang lebih utamanya adalah peringatan isra` dan mi’raj. Kita bertanya kepada diri kita, apakah semua ini memang berdasarkan tuntunan dalam syari’at Islam ataukah ini hanyalah merupakan ritual-ritual ibadah yang dilakukan oleh orang-orang belakangan setelah zaman keemasan Islam..?

Sebenarnya, ada apa sih dengan Bulan Rajab ??

Mudah-mudahan pembahasan ringkas ini dapat memberikan banyak manfaat bagi kaum muslimin, selamat menyimak..

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ * ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (Q.S. At-Taubah: 36).

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy –semoga Allah merahmatinya- menafsirkan ayat yang mulia ini dalam tafsirnya: “Allah Ta’ala berfirman di ayat ini ‘Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah’ yaitu dalam ketentuan dan takdir-Nya adalah ‘Dua belas bulan’ yaitu bulan-bulan yang telah dikenal. ‘(Sebagaimana) dalam ketetapan Allah’ yakni dalam hukum takdir-Nya, ‘pada hari Dia menciptakan langit dan bumi’ dan Dia gulirkan malam serta siangnya, Dia tentukan waktu-waktunya lalu dibagilah bulan-bulan ini menjadi dua belas bulan. ‘Di antaranya ada empat bulan haram (suci)’ yaitu Rajab al-Fard, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dinamakan haram (suci), karena bertambah keharamannya dan diharamkan berperang di bulan-bulan tersebut.[1]

Dari Abu Bakrah –semoga Allah meridhainya- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

(( إِنَّ الزَّمَانَ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ. السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوْ الْقَعْدَةِ وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مضرٍّ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.. ))

Sesungguhnya waktu (terus) berputar seperti bentuknya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (suci); tiga bulan saling berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada di antara Jumada dan Sya’ban..[2]

Hadits ini merupakan penafsiran ayat dari surat at-Taubah di atas bahwasanya dalam satu tahun ada dua belas bulan, di antara dua belas bulan tersebut ada empat bulan yang Allah sucikan; yaitu tiga bulan yang saling berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan satu terpisah, yaitu Rajab. Dari sini dapat kita ketahui bersama bahwa Rajab merupakan salah satu bulan dari empat bulan yang Allah telah memberikan keistimewaan tersendiri. Rajab merupakan bulan yang dahulu orang-orang kafir Makkah memuliakannya, di antara kabilah Makkah yang begitu amat memuliakannya adalah kabilah Mudhar[3], sehingga di antara nama bulan ini adalah Rajab Mudhar.

Dahulu orang-orang Jahiliyyah bersungguh-sungguh mendoakan keburukan bagi orang yang zalim di bulan ini dan doa mereka pun terkabulkan, disebutkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Mujaabii ad-Da’wah dan selainnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya dari Khirsyah bin al-Hurr[4] ia berkata: “Aku melihat ‘Umar –semoga Allah meridhainya- memukul para peminta-minta di bulan Rajab, sehingga mereka meletakkan (sesuatu) dalam mangkuk besar. Beliau berkata: “Makanlah karena sesungguhnya (bulan) ini hanyalah suatu bulan yang dahulu diagungkan oleh orang-orang Jahiliyyah.[5]

Dari Mujahid ia berkata: “Aku dan ‘Urwah bin az-Zubair masuk ke masjid (Nabi), lalu ‘Abdullah bin ‘Umar –semoga Allah meridhai keduanya- tiba-tiba duduk di (dekat) kamar ‘Aisyah. Dan ada sekelompok manusia yang sedang menegakkan shalat di dalam masjid (secara berjama’ah) pada waktu Dhuha, ia (perawi) berkata: “Lalu aku bertanya kepadanya tentang shalat mereka.” Ibnu ‘Umar menjawab: “(Itu adalah) bid’ah.” Kemudian ‘Urwah bertanya kepada Ibnu ‘Umar: “Berapa kali Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- umrah?” Ibnu ‘Umar menjawab: “Empat kali, salah satunya di bulan Rajab.” Namun kami tidak suka membantahnya. Ia (Mujahid) berkata: “Kami mendengar bunyi siwak ‘Aisyah ummul mukminin di kamarnya, lantas ‘Urwah berkata: “Duhai ibunda kaum mukminin, tidakkah Anda mendengar apa yang diucapkan oleh Abu ‘Abdirrahman (Ibnu ‘Umar)?” ‘Aisyah bertanya: “Apa yang ia ucapkan?” ‘Urwah berkata: “Ia (Ibnu ‘Umar) berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berumrah empat kali salah satunya di bulan Rajab. ‘Aisyah menimpali: “Mudah-mudahan Allah merahmati Abu ‘Abdirrahman, tidaklah beliau (Rasulullah) berumrah sekalipun melainkan ia (Ibnu ‘Umar) menyertainya, dan tidak pernah sekalipun beliau berumrah di bulan Rajab.[6]

Dalam riwayat dari Mujahid ini adanya keterangan bahwa mengerjakan shalat Dhuha di masjid (secara berjama’ah) merupakan perbuatan yang tidak dilakukan oleh para sahabat pada saat itu, hal ini juga disertai adanya pengingkaran dari seorang sahabat yang memiliki keilmuan yang begitu luas tentang Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam riwayat ini juga disebutkan adanya pengingkaran yang dilakukan oleh Ibunda kaum muslimin ‘Aisyah terhadap ucapan Ibnu ‘Umar bahwa dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melakukan umrah di bulan Rajab. Namun sebenarnya hal itu tidak pernah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lakukan menurut kesaksian dari istri beliau ‘Aisyah.

Berdasarkan hal ini, maka tidaklah benar anggapan sebagian orang yang mengklaim adanya keutamaan berumrah di bulan Rajab.

Dari Usamah bin Zaid[7] –semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: “Aku berkata; ‘Wahai Rasulullah, aku tidak melihat Anda (banyak) berpuasa sunnah pada suatu bulan dari bulan-bulan (yang ada) melebihi puasa Anda di bulan Sya’ban.’ Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(( ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ ))

Itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia (berada) di antara Rajab dan Ramadhan, itulah bulan (yang mana) di bulan tersebut setiap amalan (hamba) diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku suka kalau amalanku diangkat pada saat aku sedang berpuasa.[8]

Dalam hadits yang mulia ini terdapat nash bahwa dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah memperbanyak amalan puasa sunnah pada suatu bulan melainkan di bulan Sya’ban yang berada di antara Rajab dan Ramadhan, bukan di bulan Rajab sebagaimana anggapan sebagian manusia pada saat ini. Yang mana mereka mengklaim adanya keutamaan memperbanyak puasa sunnah pada suatu bulan selain di bulan ini (Sya’ban) dan riwayat ini menjadi penjelas sekaligus bantahan bahwa apa yang menjadi anggapan mereka itu tidaklah benar, karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah memperbanyak puasa sunnah pada suatu bulan melainkan di bulan Sya’ban. Hal itu disebabkan, karena di bulan tersebut (Sya’ban) setiap amalan bani Adam diangkat kepada Rabb semesta alam dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menyukai tatkala amalan beliau diangkat beliau dalam keadaan berpuasa.

Dari ‘Utsman bin Hakim al-Anshariy ia berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab, dan kami pada saat ini sedang berada di bulan Rajab.” Ia (Sa’id) menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- berkata: ‘Dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpuasa sehingga kami katakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa.’[9]

Riwayat ini juga menjadi penegas dari hadits sebelumnya bahwa bukanlah kebiasaan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak puasa sunnah di suatu bulan melainkan di bulan Sya’ban, sebagaimana keterangan yang telah datang pada hadits sebelumnya. Adapun dengan bulan Rajab, maka beliau melakukan puasa pada saat ini dalam keadaan sedang-sedang saja; tidak banyak dan tidak pula sedikit.

Dari Abu al-Malih[10] ia berkata: Nabisyah[11] berkata; “Seorang laki-laki memanggil Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: ‘Sesungguhnya dahulu di masa Jahiliyyah kami menyembelih seekor sembelihan di bulan Rajab, lalu apa yang akan Anda perintahkan kepada kami?’ Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(( اذْبَحُوْا للهِ فِيْ أَيِّ شَهْرٍ كَانَ وَبَرُّوْا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَطْعِمُوْا ))

Sembelihlah (hewan) karena Allah di bulan apapun itu dan berbuat baiklah kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta berilah makan (manusia).[12]

Dalam riwayat ini lebih ditegaskan lagi bagi tidak ada keutamaan menyembelih di bulan Rajab, berdasarkan sabdanya (yang artinya): “Sembelihlah (hewan) karena Allah di bulan apapun itu…” Jika seseorang ingin menyembelih hewan sembelihan, maka yang harus dilakukan adalah mengikhlaskan amalan tersebut kepada Allah, kemudian sembelihnya hewan tersebut di bulan apapun tanpa mengkhususkannya pada bulan-bulan tertentu, kecuali telah ada keterangannya dari syari’at bahwa perbuatan itu memang ditentukan dan dikhususkan, serta dilakukan di waktu tertentu. Allahu a’lam..

Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- apabila masuk waktu Rajab beliau berdoa;

(( اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ رَمَضَانَ ))

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami pula di bulan Ramadhan.” Beliau juga mengucapkan:

(( لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ غِرَاءٌ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ ))

Malam Jum’atnya Indah dan harinya bercahaya.”[13] Hadits ini menurut para ulama tidak bisa dijadikan sandaran dalam beragama, lantaran di dalam hadits ini terdapat cela yang menjadikan hadits ini tidak terpelihara. Salah seorang perawi yang meriwayatkan hadits ini dihukumi lemah oleh para ulama, dengan sebab inilah hadits ini tidak dapat menjadikan dirinya terangkat pada derajat yang menjadikannya layak untuk dijadikan hujjah dalam beragama.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Tidak didapati satupun hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula tentang puasa di bulan ini, tidak pula tentang penentuan suatu (jumlah) yang ditentukan, tidak pula tentang keutamaan menegakkan shalat malam yang dikhususkan di malamnya. Sungguh telah mendahuluiku al-Imam Abu Isma’il al-Harawi al-Hafizh tentang penegasan dalam masalah tersebut. Kami telah meriwayatkan hal tersebut dari beliau dan kami juga telah meriwayatkan dari selain beliau.”[14] Selesai.

Demikianlah keterangan yang disampaikan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar yang merupakan seorang tokoh sentral madzhab Syafi’iyyah, beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang dapat dijadikan sandaran dalam beragama tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula berpuasa di bulan ini, tidak pula ada keterangan tentang keutamaan menegakkan shalat malam di malam bulan Rajab yang dikhususkan waktunya dan ditentukan jumlahnya, serta praktiknya. Maka jika demikian keadaannya, darimanakah sumber pengambilan orang-orang yang mengklaim adanya keutamaan tentang bulan Rajab, padahal Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak mengerjakannya..

Lantas, ingin bersama siapakah kita saat ini..?? Sebuah Pilihan…

ABU ‘UMAIR BIN HADI


[1] Taysiir Kariim ar-Rahmaan (hal. 383).

[2] Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya yang dicetak bersamaan dengan Fathul Bari (10/7) kitab al-Adhaahiy. Hadits no. 5550. Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (3/1305) kitab al-Qasaamah, hadits no. 1679.

[3] Penisbatan kepada Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

[4] Adalah Khirsyah bin al-Hurr bin Qais bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr al-Fazzariy, seorang yatim yang dalam asuhan ‘Umar bin al-Khaththab. Ibnu Hibban dan al-‘Ijliy menyebutkannya dalam Tsiqaat at-Taabi’iin, riwayatnya dari para sahabat ada dalam ash-Shahihain, adz-Dzahabiy mengatakan: “Disepakati ketsiqahannya”. Wafat tahun 74 H.

[5] Al-Mushannaf (3/102). Syaikh al-Albaniy mengatakan setelah menyebutkan sanadnya: “Riwayat ini sanadnya shahih.

[6] Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya yang tercetak bersama Fath al-Bariy (3/599) kitab al-‘Umrah, hadits no. 1775-1776. Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (2/917) kitab al-Hajj, hadits (1255) (220).

[7] Adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbiy. Kesayangan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan anak kesayangan beliau. ibunya adalah Ummu Ayman, pengasuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan maula beliau. dilahirkan dalam keadaan Islam dan pada saat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ia berusia dua puluh tahun. Abu Bakr mengangkatnya sebagai komandan pasukan yang dahulu Nabi sebelum wafatnya telah memberikan mandat kepada Abu Bakr untuk melakukan hal itu. Dahulu ‘Umar bin al-Khaththab –semoga Allah meridhainya- memuliakan, menghormati dan mendahulukan dalam pemberian di atas anaknya sendiri ‘Abdullah bin ‘Umar –semoga Allah meridhai keduanya-. Ia menyendiri dari fitnah setelah terbunuhnya ‘Utsman hingga ia wafat di Madinah tahun 54 H –semoga Allah meridhainya-.

Al-Isti’ab, karya Ibnu ‘Abdil Barr (1/34-36), al-Ishabah, karya Ibnu Hajar (1/46) dan selainnya.

[8] Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya (5/201) dan an-Nasa`iy meriwayatkan dalam Sunan-nya (4/102) kitab ash-Shiyaam. Syaikh al-Albaniy mengatakan: “Hadits ini sanadnya hasan.”, Tsabit bin Qais ‘shaduq (jujur) yahim (sering ragu)’ –sebagaimana dalam at-Taqriib- dan seluruh perawinya terpercaya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (4/522).

[9] Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya (1/231), Muslim dalam Shahih-nya (2/811) kitab ash-Shiyaam (hadits no. 1157 dan 179) dan Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya (2/811) kitab ash-Shaum (hadits 2430).

[10]  Abu al-Malih adalah ‘Amir bin Usamah bin ‘Umair al-Hudzaliy, dikatakan; Zaid bin Usamah bin ‘Umair, tsiqah (terpercaya), al-Hajjaj mengangkatnya sebagai penguasa kabilah al-Ubullah, wafat tahun 98 H, dikatakan tahun 108 H, dikatakan tahun 112 H.

Lihat Masyaahiir ‘Ulamaa` al-Amshaar hal. 94, dan selainnya.

[11]  Nabisyah al-Khair bin ‘Amr bin ‘Auf bin ‘Abdillah bin ‘Itab bin Harits al-Hudzaliy, Abu Tharif, diperselisihkan pada nama dan nasabnya. Ia adalah anak paman Salamah bin al-Mihbaq al-Hudzaliy, Rasulullah yang menamakannya Nabisyah al-Khair dan tinggal di Bashrah. Lihat al-Ishabah (3/521) dan selainnya.

[12] Ahmad meriwayatkan Musnad-nya (5/76), Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya (3/255) kitab al-Adhaahiy hadits (2830), an-Nasa`iy meriwayatkan dalam Sunan-nya (7/169 dan 170) kitab al-Far’i wa al-‘Thiirah. Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya (2/1057, 1058) kitab adz-Dzabaa`ih hadits (3167) dan al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak (4/235) kitab adz-Dzabaa`ih, ia berkata: “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabiy.

[13]  Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya (1/259). Di dalamnya terdapat Zaidah bin Abu ar-Raqad dari Ziyad an-Numairiy. Ibnu Hajar berkata: “Zaidah bin Abu ar-Raqad sekelompok manusia meriwayatkan darinya.” Abu Hatim berkata tentangnya: “Ziyad an-Numairiy meriwayatkan dari Anas hadits-hadits yang dikenal kemungkarannya. Maka ia tidak mengetahui darinya atau dari Ziyad dan aku tidak mengetahui ada orang yang meriwayatkan dari Anas selain Ziyad ini, dan kami mempertimbangkan haditsnya itu.” Al-Bukhariy menegaskan: “Haditsnya mungkar.” An-Nasa`iy juga menegaskan setelah mengeluarkan satu hadits dalam Sunan-nya: “Aku tidak mengetahui siapa dia.” Dikatakan dalam adh-Dhu’afaa`: “Haditsnya mungkar.” Dikatakan dalam al-Kunaa: “Ia (Ziyad) tidak tsiqah.” Ibnu Hibban mengatakan: “Khabarnya tidak bisa dijadikan hujjah.”

[14]  Tabyiin al-‘Ujab bimaa Warada Fii Fadhli Rajab hal. 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: