Pohon Hati

6 Mei

Gambar

Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman (yang artinya): “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. Dan Allah membuat pperumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Q.S. Ibrahim: 24-26).

Berikut ini adalah untaian faidah berharga dari ayat yang mulia ini, disampaikan oleh seorang alim rabbani dalam bukunya yang berjudul al-Fawa`id, salah seorang murid dari seorang alim rabbani yang tersohor pula namanya. Tak lain beliau adalah Muhammad bin Abu Bakr bin Sa’ad bin Hariz az-Zur’iy ad-Dimasyqiy atau lebih dikenal dengan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah –semoga Allah merahmatinya-. Dan ini adalah penjelasan beliau berkaitan dengan ayat tersebut, kemudian beliau mengatakan:

Tahun adalah pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah dahannya, waktu adalah dedaunnya dan nafas adalah buahnya, maka barangsiapa yang nafasnya (hidupnya berada) dalam ketaatan niscaya buah dari pohonnya tersebut adalah baik. Dan barangsiapa yang nafasnya (hidupnya berada) dalam kemaksiatan, niscaya buah dari pohonnya tersebut berupa sejenis buah labu (yang pahit rasanya). Sesungguhnya ia hanya akan memetik buahnya pada hari kiamat, lalu tatkala memetiknya niscaya akan terbedakan (antara) manis dan pahit dari buah-buahan tersebut.

                Ikhlas dan tauhid adalah pohon dalam hati, cabang-cabangnya adalah amal perbuatan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia serta kenikmatan yang terus-menerus di akhirat. Seperti halnya buah-buahan surga yang tidak terputus dan tidak pula dilarang (dari memakannya), maka seperti itulah buah tauhid dan ikhlas di dunia.

                Kesyirikan, dusta dan riya adalah pohon di dalam hati, buahnya di dunia adalah ketakutan, kecemasan, kesedihan, sempitnya dada dan gelapnya hati, sedangkan buahnya di akhirat adalah az-Zaqqum (buah neraka) dan siksaan yang terus-menerus.

                Dua pohon inilah yang telah disebutkan Allah dalam surat Ibrahim (ayat 24-26).”

Sekian dari beliau –rahimahullah-.

(Dialihbahasakan dari kitab Fawa`id al-Fawa`id, hal. 261, Daar Ibnul Jauziy, Saudi Arabia, cet. ke 10).

ABU ‘UMAIR BIN HADI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: