ORANG YANG MELEWATI MIQAT HAJI TANPA BERIHRAM

6 Mei

Gambar

            Para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang melewati miqat haji tanpa berihram, sedangkan ia hendak berhaji dan umrah, kemudian ia berihram setelah melewatinya, maka dengan sebab perbuatan ini ia berdosa dan dosa tersebut tidak akan hilang darinya melainkan ia kembali ke miqat (haji) lalu berihram dari sana, kemudian ia menyempurnakan seluruh rukun dan wajib haji. Namun jika ia sekalipun tidak kembali maka hajinya tetap sah, ia mendapat dosa dan tidak wajib membayar dam.” Berdasarkan hadits Shafwan bin Ya’la bahwa Shafwan berkata kepada Umar –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sedang berada di Ju’ranah –di sekeliling beliau terdapat para sahabatnya- lalu datang kepada beliau seorang laki-laki lantas ia pun bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berihram untuk mengerjakan umrah, namun ia memakai wewangian?’ Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun terdiam sesaat lantas wahyu pun turun kepada beliau, lalu ‘Umar –semoga Allah meridhainya- mengisyaratkan kepada Ya’la, ia pun datang –dan di atas Rasulullah terdapat secarik pakaian yang beliau gunakan untuk menaunginya- lalu beliau memasukkan kepalanya, tiba-tiba Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menutupi wajahnya, kemudian beliau muncul dan bertanya: “Di manakah orang yang bertanya tentang umrah tadi?” Maka dibawalah orang tersebut. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(( اغسل الطيب الذي بك ثلاث مرات, وانزع عنك الجبة, واصنع في عمرتك كما تصنع في حجتك ))

“Cucilah wewangian tersebut yang ada padamu sebanyak tiga kali, lepas jubah yang kamu kenakan itu dan kerjakan umrahmu sebagaimana kamu mengerjakan haji.”” Muttafaqun ‘alaihi.

SISI PENDALILAN HADITS

Bahwa orang mengerjakan penyelisihan atau perkara yang dilarang dalam ihram maka tidak ada kewajiban baginya melainkan ia hanya harus meninggalkannya saja. Karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak memerintahkan orang yang memakai jubah yang terkena wewangian tersebut melainkan (hanya diperintahkan) untuk melepas jubah dan mencuci wewangiannya, serta tidak pula memerintahkannya untuk menyembelih hewan (dam), kalau sekiranya perkara tersebut wajib niscaya sungguh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan memerintahkannya. Karena (ada suatu kaidah, yaitu) tidak diperbolehkan menunda penjelasan pada saat dibutuhkan (penjelasan tersebut) padahal pada saat itu sedang dibutuhkan.[1]

Penulis al-Mughni menyebutkan dalam kitabnya suatu masalah, beliau (al-Khiraqiy) mengatakan: “Barangsiapa yang hendak berihram, lalu melewati miqat tanpa berihram maka ia kembali ke miqatnya lalu berihram dari miqatnya tersebut. Jika ia telah berihram dari tempat tinggalnya, maka wajib baginya membayar dam, meskipun ia kembali dalam keadaan berihram kepada miqatnya.”

Beliau (ibnu Qudamah) –semoga Allah merahmatinya- menjelaskan “Bahwa orang yang melewati miqat hendak melakukan manasik haji dan umrah tanpa berihram terlebih dahulu, maka wajib baginya untuk kembali ke miqatnya dan memulai ihram dari sana –jika memungkinkan- sama saja apakah ia melewatinya dalam keadaan mengetahui atau tidak mengetahui, mengetahui keharamannya ataukah tidak. Maka jika ia kembali ke miqatnya tersebut, lalu memulai ihram dari sana, maka ia tidak terkena sangsi apapun dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam masalah itu. Inilah pendapat Jabir bin Zaid, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair, ats-Tsauriy, asy-Syafi’i dan selain mereka.”[2]

Beliau juga menegaskan: “Jika seseorang berihram dari selain miqatnya, maka wajib baginya membayar dam, sekalipun ia kembali ke miqatnya tersebut ataukah tidak. Inilah yang dikatakan oleh Malik dan Ibnul Mubarak. Sedangkan zhahir madzhab asy-Syafi’i adalah jika orang tersebut kembali ke miqatnya, maka ia tidak terkena sangsi (denda/dam) kecuali apabila ia telah mengerjakan rukun atau wajib haji seperti Wuquf, Thawaf Qudum, maka ia tetap wajib membayar dam.” Beliau berkata: “Pendapat Abu Hanifah adalah jika ia kembali lagi ke miqatnya lalu bertalbiyah, maka gugurlah kewajiban dam darinya. Namun jika ia tidak bertalbiyah, maka ia tetap terkena sangsi.” Beliau berkata lagi: “Sedangkan pendapat ‘Atha`, al-Hasan dan an-Nakha’iy adalah tidak ada sangsi apapun terhadap orang yang meninggalkan miqat. Pendapat dari Sa’id bi Jubair adalah tidak sempurna haji orang yang meninggalkan miqatnya. Dan pendapat kami (Ibnu Qudamah) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya beliau bersabda:

(( من ترك نسكا, فعليه دم ))

“Barangsiapa meninggalkan manasik haji (rukun dan wajib haji), maka wajib baginya membayar dam.” Diriwayatkan secara mauquf dan secara marfu’.[3] [4]

Mudah-mudahan bermanfaat..

Abu Umair bin hadi


[1] Al-Wajiiz Fi Fiqh as-Sunnah wa al-Kitaab al-‘Aziiz, hal. 240.

[2] Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqiy (5/69).

[3] Secara mauquf dikeluarkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa` (1/419) dan secara marfu’ Ibnu Hajar dalam Talkhish al-Habir (2/229) menyandarkan (asal) hukum ini kepada Ibnu Hazm.

[4]  Al-Mughni (5/69).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: