TUJUAN TAUHID

14 Sep

tauhid

1. Membebaskan manusia dari jeleknya kehinaan dan ketundukan kepada makhluk lainnya.
manusia adalah makhluk yang lemah,tidak mampu menguasai untuk dirinya manfaat, bahaya,kematian,kehidupan dan tidak pula kebangkitan. Yang demikian karena terkadang makhluk tersebut adalah benda mati,tidak mampu berbicara,pepohonan,kayu yang dipahat ataukah batu. Dan terkadang makhluk tersebut adalah bintang di langit,matahari,bulan,ataukah kuburan yang diagungkan. Ataukah makhluk tersebut adalah para dukun,tukang ramal,tukang sihir yang fajir,ataukah dia adalah pengikut hawa nafsu. Dan dia adalah sesuatu yang paling berbahaya terhadap jiwa. Allah Ta’alaa berfirman : al jatsiyah : 23
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Jika engkau merasa heran,maka heranlah terhadap jiwa-jiwa manusia yang sakit. Yaitu ketika mereka terikat terhadap syaiton dan hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai Illah (sesembahan) nya serta meninggalkan podasi yang utama yaitu: beribadah kepada sesembahan yang benar, yang bersendirian dalam penciptaan,pemberian rizki,pemberian hidayah dan pengaturan seluruh alam tanpa adanya sekutu,pembantu ataupun tandingan. Allah Ta’alaa berfirman : saba’: 22
Katakanlah: ” Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.

2. Mengarahkan hati, akal dan anggota badan manusia untuk bergantung hanya kepada Allah
Allah telah menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan, hati, seluruh anggota badan dan panca indra agar meraka menjadi orang-orang yang bersyukur. Bahkan seluruh apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi dijadikan untuk menjadi sarana yang akan mengantarkan manusia kepada keridhoan Allah, dan mengantarkan mereka kepada negri kemuliaan dan kebahagiaan dalam keluasan Allah. Dan Allah telah memerintah mereka agar mennjadi hamba yang merdeka, ikhlas kepada Allah. Tidak ada sekutu, penolong dan tidak pula tandingan-tandingan bersama Allah. Bahkan sebagaimana firman Allah: al baqorah: 156
“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali”
Allah telah mencatat, tidaklah Dia mewakilkan kepada akal hamba-hamba-Nya untuk beribadah sesuai kehendaknya. Akan tetapi Allah mengutus para Rosul kepada mereka sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, serta menurunkan kitab-kitab-Nya dan menjadiknnya sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.
Ini adalah kemerdekaan yang sebenarnya bagi manusia. Maka Allah mengharamkan bagi mereka untuk memalingkan sesuatu dari amalan-amalan hati, amalan anggota badan terhadap manusia yang semisalnya bagaimanapun kedudukannya, meskipun dia memiliki kekuatan.
Adapun musuh-musuh aqidah ini, mereka menjelaskan kemerdekaan manusia adalah dengan meninggalkan hukum-hukum agama yang lurus ini, menolak aqidah yang diridhoi Allah agar berlindung dibawah kebebasan dan berjalan mengikuti syahwat syaiton yang akan mengantarkan kepada kejelekan, musibah akhlak yang rendah. Dan pada masa sekarang sangat disayangkan sekali banyak orang-orang yang menyandakan dirinya kepada Islam, mereka menyambut seruan menyesatkan yang datang dari musuh-musuh Islam ini. Mereka mengikuti musuh-musuh Islam. Mereka menganggap syari’at Allah ini adalah perkara yang kaku, kasar, tidak berprikemanusiaan, tidak layak lagi dijaman ini dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Hal ini disebabkan mereka tidak mau mempelajari agama yang lurus ini, dan tidak mau mempelajari syari’at yang mulia. Mereka juga lebih mengedepankan hawa nafsunya dibandingkan mengedepankan apa yang datang dari wahyu Allah yaitu Al Quran dan Hadits Nabi

3. Mengikhlaskan niat pada seluruh ibadah
Ini mencakup seluruh ibadah, baik yang dilakukan anggota badan ataupun dikerjakan dengan harta. Seorang yang beribadah harus memaksudkan mengharap wajah Allah dan negri akhirat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi: “sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Dan bagi seseorang apa yang dia niatkan…” muttafaqun ‘alaihi
Demikian juga ketika seseorang meninggalkan perkara yang haram atau makruh, maka harus mengikhlaskan untuk Allah, bukan karena riya, ingin didengar, bukan pula karena cinta ketenaran atau pula pujian. Allah Ta’alaa berfirman Al kahfi: 110
“ barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

4. Ketenangan jiwa dan pikiran
Yang demikian karena aqidah yang benar adalah keistimewaan yang besar dan keutamaan yang agung. Dengan aqidah yang benar akan mengantarkan hamba kepada penciptanya. Tidak diragukan lagi, aqidah yang benar akan memberikan kelapangan jiwa, ketenangan pikiran dan bersih serta kekokohan hati.
Berbeda dengan orang-orang yang beraqidah batil, maka kebimbangan dan keraguan senantiasa ada pada jiwa dan pikiranya. Dan ini telah terbuktikan pada orang-orang yang membangun aqidahnya diatas ilmu mantik, filsafat dan lain sebagainya.

5. Selamatnya niat dan amalan
Aqidah yang benar akan menyelamatkan seluruh niat dan amalan dari penyimpangan aqidah, penyimpangan ibadah dan penyimpangan dalam muamalah. Tujuan ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan mentaati Allah dan Rosul-Nya. Yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Maka barangsiapa yang beramal dengan apa yang dibawa Nabi, dan Nabi menyeru manusia untuk mengerjakannya, maka dia terbebas dari penyimpangan. Akan tetapi barangsiapa berpaling dari apa yang datang dari Nabi, dan mengikuti perkara yang tidak diajarkan Nabi serta mengikuti hawa nafsu maka dia telah menyimpang dari jalan yang lurus.

6. Memotifasi untuk bersungguh-sungguh terhadap segala yang akan mengantarkan kepada ridho Allah dan menjaga dari kemurkaan-Nya
Yang demikian dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalnkan perintah-Nya dan menjauhi beermaksiat kepada-Nya sepanjang umurnya. Ini adalah kehidupan yang barokah yang akan menghasilkan balasan yang baik dinegri dunia maupun negri akherat. Sebagaimana firman Allah An nahl: 97
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”.

7. Membentuk umat yang kuat dalam aqidah dan imannya
Demikian juga, aqidah islam akan menguatkan ummat pada fisik mereka, ketulusan, keikhlasan, ibadah-ibadah, muamalah, akhlak, prilakunya dan kuaatnya usaha mereka didunia agar mampu memakmurkan dunia sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Juga kuatnya usaha mereka untuk akheratnya agar mendapat pahala Allah. Dan hal tersebut tidak akan terwujud pada suatu ummat sampai mereka mendahulukan kebenaran dari kebatilan, mendahulukan petunjuk atas kesesatan, mendahulukan kebaikan atas kejelekan, mendahulukan akhlak yang terpuji atas akhlak yang rendahan, mendahulukan jihad dijalan Allah atas seluruh kesenangan hidup, mendahulukan menampakkan kalimat kebenaran atas diamnya ketika batasan-batasan Allah dilanggar. Allah ta’aala berfirman an nur;50
“ Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim”.
Dan dalam surat al hajj; 41
“ (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.

Itu adalah sebagian dari tujuan aqidah yang diserukan oleh seluruh para Nabi dan para Rosul yang Allah utus kepada setiap ummat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan menjadi pendorong bagi ummat Islam untuk terus mempelajari, memperbaiki dan memperkokoh aqidah.

Wallahu a’lam bish showab
Disarikan dari kitab al hayaatu fii dhillil ‘aqidah islamiyyah karya syaikh Zaid bin muhammad
ridwan abu qotadah

Iklan

Rambu-Rambu dalam Berdakwah

5 Okt

Dakwah di Jalan Allah ( 2 )

Rambu-Rambu dalam Berdakwah

Sesungguhnya berdakwah di jalan Allah adalah jalan yang ditempuh oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan segenap pengikutnya. Berdakwah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari neraka menuju surga. Pengertian berdakwah dijalan Allah yang paling bagus adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata : “ berdakwah dijalan Allah adalah berdakwah kepada keimanan kepada-Nya dan kepada setiap apa yang dibawa oleh para Rosul-Nya, dengan membenarkan setiap berita yang mereka bawa dan mentaati perintahnnya….

Didalam dakwah memiliki rambu-rambu serta asas-asas yang harus terpenuhi. Kapan salah satu dari dari rambu-rambu serta asas-asas tersebut tidak terpenuhi maka dakwah tersebut tidak lagi dikatakan dakwah yang benar dan tidak akan menghasilkan buah yang diharapkan meskipun banyak harta yang disumbangkan dan waktu yang dinafkahkan. Hal ini sebagaimana yang kita saksikan pada kebanyakan dakwah kontenporer yang tidak ditegakkan diatas asas yang benar.

Rambu-rambu dan asas-asas dalam dakwah yang benar adalah sebagaimana ditunjukan didalam Al Quran dan Hadits, dan teringkas pada hal-hal berikut :

  1. Ilmu

Seorang yang berdakwah harus memiliki ilmu, maka orang yang bodoh tidak layak untuk berdakwah. Allah Ta’aala berfirman

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. Yusuf : 108

Kata bashiroh maksudnya adalah ilmu. Maka seorang da’I disyaratkan memiliki ilmu dalam 3 hal :

  1. Ilmu tentang apa yang akan dia dakwahkan
  2. Ilmu tentang keadaan orang yang dia dakwahi
  3. Ilmu tentang metode berdakwah

Kapan seorang da’I tidak memiliki ilmu ini, maka dia akan runtuh dari jalan dakwah ini.

  1. Amal

Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu. Maka seorang da’I wajib mengamalkan apa yang dia dakwahkan, sehingga dia menjadi suri tauladan yang baik dan ucapannya selaras dengan apa yang dia dakwahkan sehingga orang yang jahat tidak memiliki alasan untuk meninggalkan kebenaran yang dia bawa. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam, bahwa dia berkata kepada kaumnya

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Huud: 88

  1. Ikhlas

Dakwah adalah salah satu bentuk ibadah, dan ibadah itu diterima dengan 2 syarat yaitu ikhlas dan mencontoh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga dakwah tersebut hanya karena Allah semata, bukan karena riya, sum’ah, bukan untuk mencari kedudukan, ingin terpandang dimata manusia dan bukan pula kerena ingin mencari sedikit dari kesenangan dunia. Karena dakwah yang disusupi oleh maksud tujuan tersebut, maka dakwahnya bukan karena Allah, akan tetapi hal tersebut adalah dakwah untuk kepentingan sendiri atau ketamakan yang dia turuti. Seluruh para Nabi dan Rosul berkata kepada kaum mereka :

Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. upahku hanyalah dari Allah . Huud: 29

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al An’am: 90

  1. Memulai dakwah dengan dari hal yang paling penting kemudia yang penting

Dimana dakwah dimulai dengan menyerukan kepada perbaikan aqidah, mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan melarang dari kesyirikan. Kemudian berdakwah untuk menunaikan sholat, menunaikan zakat, menunaikan kewajiban-kewajiban dan melarang dari yang haram. Hal ini adalah jalan dakwah seluruh para Nabi dan para Rosul. Allah Ta’aala berfirman

Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. An Nahl: 36

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. Al Anbiya: 25

Sebaik-baik teladan dan manhaj yang sempurna dalam berdakwah adalah shiroh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana beliau menetap di mekkah selama 13 tahun menyeru manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari kesyirikan sebelum Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka dengan sholat, zakat, puasa dan haji, dan sebelum beliau melarang mereka dari perbuatan riba, zina, mencuri, dan dari membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

  1. Sabar

Dimana seorang da’I bersabar atas apa yang dia hadapi dalam jalan dakwah berupa kesulitan-kesulitan dan gangguan manusia. Karena jalan dakwah bukanlah jalan yang mulus, akan tetapi jalan dakwah adalah jalan dikelilingi perkara-perkara yang dibenci dan perkara yang membahayakan. Sebaik-baik suri tauladan dalam hal ini adalah para Nabi dan para Rosul. Bagaimana mereka mendapatkan gangguan serta penghinaan dari kaum mereka sendiri. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi-Nya

Dan sungguh Telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. Al An’am: 10

Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Al An’am: 34

Demikian pula apa yang telah menimpa kepada para pengikut Nabi dan Rosul, berupa kesulitan dan gangguan sesuai apa yang mereka tegakkan dalam dakwah.

  1. Berakhlak yang baik

Seorang da’I wajib memiliki akhlak yang baik dan hikmah dalam berdakwah. Hal ini adalah diantara sebab besar diterimanya dakwah. Allah Ta’aala berfirman

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. An Nahl: 125

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Ali ‘Imran: 159

  1. Semangat

Seorang da’I harus memiliki semangat dan harapan yang tinggi. Tidak boleh baginya untuk berputus asa dalam berdakwah dan menyampaikan hidayah kepada kaumnya meskipun hal tersebut dia tempuh dalam waktu yang cukup lama. Sejarah para Nabi dan Rosul adalah teladan yang sangat baik baginya. Allah Ta’aala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis salam

Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Al ‘Ankabut: 14

iitulah diantara rambu-rambu yang hendaknya dimiliki seorang da’i. Kapan hal tersebut hilang dari seorang da’I maka dia akan terhenti diawal dakwah dan kembali berputus asa dalam amalnya.

 

Wallahu A’lam bish showab

 

Oleh : Abu Qotadah Ridhwan Al Liyasiy

( Disarikan dari muqoddimah Syaikh Sholih Fauzan terhadap kitab manhajul anbiya fid da’wah ilallah dengan sedikit tambahan)

Sisi Kelam dibalik Keindahan Wadas Putih

23 Jul

Desa Sampang ( selanjutnya kita menamakannya Jazirah Syam ) adalah sebuah desa yang terletak dipertengahan rangkaian perbukitan Serayu yang membentang panjang di propinsi Jawa Tengah. Ia berada dibelakang waduk Sempor sehingga jika dilihat dari sisi administratif ia masuk wilayah kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, propinsi Jawa Tengah. Jazirah Syam dikelilingi perbukitan yang meninggi dari segala penjuru arah mata anginnya, sehingga seolah-olah Jazirah Syam berada ditengah lembah perbukitan yang sangat luas. Ada dua perbukitan yang menjulang tinggi seolah-olah membentengi Jazirah ini yaitu Watu Kelir ( berada dibelakang dukuh Depok ) dan Wadas Putih ( berada diatas dukuh Pokumbang-Semampir ).
Dari dua perbukitan diatas, yang paling menarik adalah Wadas Putih. Selain pemandangannya yang indah yaitu bisa melihat keseluruhan wilayah Jazirah Syam, bisa menikmati keindahan rangkaian perbukitan serayu, juga dimasa dahulu sebenarnya ada sebuah telaga yang indah terletak disebelah kiri Wadas Putih. Namun pada tahun 1970-an terjadi longsor yang mengakibatkan telaga tersebut tertimbun dan sampai saat ini sisa peninggalan mata airnya masih mengalir menuju perkampungan.
Ada sebuah “fenomena menarik” yang akan kita sampaikan berkaitan dengan Wadas Putih ini. Di pertengahan Wadas Putih ini ada semacam gua kecil yang dipergunakan untuk bersemedi. Banyak orang mengunjungi tempat ini, meminta kepada “penghuninya” dengan hajat kebutuhannya masing-masing. Gua ini benar-benar telah dijadikan tempat beribadah kepada selain Allah ( syirik besar ). Bahkan pada hari-hari tertentu diadakan berbagai macam perayaan yang merupakan bentuk kesyirikan. Misalnya bersemedi, sedekah bumi, kenduri, perayaan syuro’ dan lain sebagainya. Sisa-sisa pembakaran kemenyan sudah meninggi yang menunjukan bahwa tempat tersebut benar-benar telah menjadi tempat kesyirikan dan banyak orang yang mendatanginya. Selain di wadas putih ini, masih banyak tempat-tempat kesyirikan lainnya yang tersebar di Jazirah ini.
Dakwah Tauhid masuk dan berkembang di Jazirah Syam pada tahun 1999-an. Dan Alhamdulillah banyak orang pribumi yang akhirnya mengenal Tauhid. Bahkan saat ini ada beberapa orang dari mereka sekarang sudah bisa mendakwahkannya.
Sebagaimana kita ketahui bersama musuh utama dakwah Tauhid adalah kesyirikan, maka seorang yang bertauhid (muwahhid) seharusnya menyadari betul siapa musuh yang sebenarnya. Masih terlalu banyak “PR” utama yang nampak jelas dihadapan mata-kepala mereka. Bahkan seorang yang bertauhid seharusnya tidak merasa aman dari adzab Allah. Karena seandainya Allah menyiksa suatu kaum, maka hal tersebut tidak hanya menimpa kepada kaum yang berbuat dholim saja secara khusus, bahkan bisa saja hal tersebut juga menimpa kepada orang yang beriman. Sebagaimana Firman Allah : “ dan takutlah kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dholim saja diantara kalian “ Al Anfal : 25
Seorang muwahhid juga seharusnya menyadari betul, bahwa sebab terbesar terjadinya musibah adalah kesyirikan kepada Allah. Hal ini sebagaimana Firman Allah : “ hampir saja langit itu pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh ( karena ucapan itu ). Ketika mereka menyerukan Allah yang Maha Pengasih mempunyai anak “ Maryam : 90-91
Cermatilah ayat diatas. Keyakinan bahwa Allah memiliki anak adalah keyakinan syirik kepada Allah yang dilakukan orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum Musyrikin. Maka seandainya ada dari umat ini yang berbuat kesyirikan dengan memberikan peribadahan kepada selain Allah, maka sangat dikhawatirkan apa yang Allah sebutkan dalam ayat diatas akan benar-benar terjadi.
Kalau kita kembalikan sekilas penjelasan diatas lalu kita lihat kondisi alam Jazirah Syam yang dikelilingi perbukitan dan fenomena kesyirikan yang terjadi, maka seharusnya kita semua sangat khawatir Allah akan memberikan keputusannya kepada penduduk Jazirah Syam. Na’udzubillah min dzalik. Sudah terlalu banyak contoh bagaimana Allah Ta’aala memberikan keputusan-Nya berupa bencana dan adzab kepada kaum yang bermaksiat kepada-Nya baik kepada kaum sebelum diutusnya Nabi Muhammad ataukah kepada kaum dari ummat Nabi Muhammad
Maka disini adalah bentuk nasehat bagi saya sendiri, teman-teman yang sudah Allah berikan hidayah kepadanya, serta nasehat bagi keumuman kaum muslimin untuk benar-benar mempelajari Islam. Pelajarilah Tauhid, amalkan, dan dakwahkanlah kepada manusia. Pelajarilah Kesyirikan dengan berbagai macamnya, jauhi, dan peringatkanlah manusia untuk menjauhi perbuatan syirik sejauh-jauhnya.
sahabatku, Kenali siapa kawanmu sebenarnya…
sahabatku, Kenali siapa lawanmu sebenarnya…

Inilah Jalan Yang akan Ku Tempuh (1)

18 Jul

Inilah Jalan Yang akan Ku Tempuh (1)
Setelah sekian lama blog ini tidak menampilkan tulisan, maka dengan memohon pertolongan kepada Allah, kami akan kembali berusaha bangkit untuk memberikan faidah ilmu yang kami dibebani oleh Allah dengannya.
Syaikh Sholih Fauzan menjelaskan bahwa seseorang harus berdakwah kepada orang lain, sehingga ilmunya bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Karena ilmu ini adalah amanah, bukan hanya milik seseorang saja, dia menyimpannya dan mengharamkan manusia dari ilmu tersebut. Sungguh manusia sangat membutuhkan terhadap ilmu. Maka wajib bagimu untuk menyampaikan, menjelaskan dan berdakwah kepada manusia menuju kebaikan. Ilmu yang Allah anugerahkan bukan semata-mata pemberian untukmu saja, akan tetapi ilmu itu adalah untukmu dan juga untuk orang lain. Maka janganlah engkau terus menumpuknya dan engkau menghalangi manusia dari mengambil manfaat dengannya. Allah Ta’aala berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” . Ali ‘Imran: 187
Ini adalah perjanjian yang Allah ambil atas para ‘Ulama agar mereka menjelaskan kepada manusia apa-apa yang Allah ajarkan kepadanya dengan tujuan untuk menyebarkan kebaikan. Bahkan dakwah adalah jalannya Rosulullah dan para pengikutnya. Sebagaimana Allah Ta’aala berfirman:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. Yusuf: 108
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa dakwah adalah jalan Rosulullah dan orang yang mengikuti mereka untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid dan dari neraka menuju surga. Maka barangsiapa tidak berdakwah padahal dia mampu untuk berdakwah, dia mempunyai ilmu tapi menyembunyikannya maka dia akan ditarik dengan tali kekang yang terbuat dari api pada hari kiamat. Rosulullah bersabda; “barangsiapa yang menyembunyikan ilmu yang Allah memberi manfaat dengannya pada urusan manusia, urusan agama, maka Allah akan menariknya dengan tali kekang yang terbuat dari api” . Riwayat Ibnu Majah 265 dari Abu Sa’id Al Khudry
Keutamaan dakwah sangatlah banyak. Asy Syaikh Robi’ hafidzohullah berkata: “Sepertinya sebaik-baik apa yang pernah dikatakan tentang kedudukan dakwah kejalan Allah adalah apa yang diterangkan oleh Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah (badai’ut tafsir 4/103) : ” maka berdakwah kejalan Allah Ta’aala adalah peran para Rosul, para pengikut mereka serta pengganti (khulafa) para Rosul pada ummat mereka…
Dan menyampaikan Sunnah-Sunnah Rosul kepada ummat lebih utama dibandingkan melempar anak-anak panah ke leher-leher musuh. Karena melempar anak-anak panah dapat dilakukan oleh kebanyakan manusia, sedangkan menyampaikan Sunnah-Sunnah tidak bisa diemban kecuali oleh para pewaris para Nabi dan para pengganti mereka pada ummatnya. Semoga Allah Ta’aala menjadikan kita termasuk dari mereka dengan karunia dan kemuliaan-Nya”.
Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah berkata: “maka maksud dan tujuan dakwah adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, menunjukan mereka kepada kebenaran sampai mereka menerimanya, selamat dari neraka dan selamat dari murka Allah Ta’aala. Dan mengeluarkan orang kafir dari gelapnya kekafiran menuju cahaya dan kebenaran. Mengeluarkan orang yang bodoh dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Mengeluarkan orang yang bermaksiat dari gelapnya kemaksiatan menju cahaya ketaatan. Ini adalah tujuan dari dakwah sebagaimana Allah Jalla wa ‘Ala berfirman;
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. Al Baqoroh:257
Bersambung – insya Allah – …
Abu Qotadah Ridhwan Al Liyasiy

Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan (JILID II -ٍSelesai-)

24 Jul

Gambar

Pada pembahasan yang telah lalu telah kami kemukakan beberapa penjelasan tentang akidah, hakikat keimanan, sumber pengambilan keimanan dan lain sebagainya. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut silahkan baca artikel kami yang berjudul “Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan (Jilid I)”, insya Allah pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa poin yang cukup penting untuk kita ketahui, selamat membaca..

A.      DI ANTARA SEBAB-SEBAB PENTING TERJADINYA PENYIMPANGAN AKIDAH

1.       Bodoh tentang aqidah yang benar

Ini adalah di antara sebab terbesar terjadinya penyimpangan, perkara-perkara yang akan menyebabkan penyimpangan akidah :

  1. Berpaling dari mempelajari akidah yang benar.
  2. Berpaling dari mengajarkannya.
  3. Menaruh sedikit perhatian terhadap akidah.

Jika ini terjadi, maka akibatnya akan ada suatu generasi yang tidak mengetahui akidah yang benar dan tidak pula mengetahui lawan dari akidah yang benar. Sehingga mereka menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan dianggap sebagai kebenaran. Sebagaimana Umar bin Al-Khattab berkata : “Tali keislaman akan berkurang seutas demi seutas jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara Jahiliyyah.”

2.       Fanatik terhadap nenek moyang

Sikap fanatik ini akan menyebabkan seseorang akan berpegang teguh kepada apa yang telah ada pada nenek moyang mereka, meskipun mereka berada diatas kebatilan. Dan meninggalkan apa yang menyelisihi nenek moyang meskipun perkara tersebut adalah kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah (yang artinya):

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al-Baqarah : 170)

  1. 3.       Taklid Buta

Seperti orang yang mengambil ucapan-ucapan manusia dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalil-dalilnya dan tanpa mengetahui kadar kebenarannya. Hal ini sebagaimana terjadi dari kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah akidah dari kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Sufiyah, dan selainnya. Mereka taklid kepada pendahulu-pendahulu mereka dari pemimpin-pemimpin kesesatan, maka mereka pun tersesat dan menyimpang dari akidah yang benar.

  1. 4.       Berlebih-lebihan/ekstrim terhadap para wali dan orang-orang sholih

Di antara bentuknya adalah mengangkat mereka melebihi kedudukan mereka yang sebenarnya. Di mana mereka meyakini dalam diri mereka hal-hal yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah, seperti: Mendatangkan manfaat, menolak bahaya dan menjadikan mereka sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam penunaian hajat dan pengabulan doa-doa.

Bahkan hal tersebut terkadang berubah menjadi bentuk peribadahan kepada mereka, mendekatkan diri kepada kuburan-kuburan mereka dengan cara menyembelih, bernadzar, berdoa, beristighasah, dan meminta bantuan. Hal ini sebagaimana yang telah terjadi pada kaum Nabi Nuh terhadap hak-hak orang shalih, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.”  (QS. Nuh : 23).

Dan  itu juga yang terjadi pada para penyembah kubur dikebanyakan negeri pada saat ini.

  1. 5.       Lalai dari mempelajari ayat-ayat Allah yang bersifat Kauniyah dan ayat-ayat Allah yang bersifat Qur’aniyah

Hal ini dapat menyebabkan mereka tersilaukan dengan pemberian yang sifatnya materi sampai mereka mengira bahwa pemberian tersebut berasal dari manusia semata, maka mereka pun akhirnya mengagungkan manusia dan menyandarkan pemberian tersebut kepada mereka.

Hal ini sebagaimana ucapan Qarun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku””. ( Qashshash : 78).

Dan sebagaimana ucapan manusia. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah ia berkata: “Ini adalah hakku… (QS. Fushilat : 50). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):

… kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku… (QS. Az Zumar : 49)

  1. 6.       Banyaknya rumah-rumah yang kosong dari bimbingan yang benar

Keadaan ini sudah menjadi hal yang biasa dikalangan kaum muslimin. Rumah-rumah mereka kosong dari bimbingan ilmu, bahkan rumah mereka diisi dengan televisi atau media elektronik lainnya yang tidak membimbing atau mendidik dengan pendidikan yang benar.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Muttafaqun’alaihi.

Maka kedua orang tua memiliki andil besar dalam mendidik buah hatinya.

  1. 7.       Jauhnya berbagai sarana pengajaran ilmu agama dan sarana informasi dalam menyampaikan perkara yang penting.

Ini terjadi hampir dikebanyakan negeri-negeri Islam. Bahkan terkadang sarana-sarana tersebut tidak memberikan perhatian besar terhadap masalah agama atau bahkan tidak memberikannya sama sekali. Maka jadilah sarana-sarana tersebut sebagai perantara menuju kehancuran dan penyimpangan. Mereka tidak memperhatikan hal-hal yang dapat memperbaiki dan menguatkan akhlak dan tidak pula mengajarkan akidah yang benar.

  1. B.      FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMBENTENGI DIRI DARI PENYIMPANGAN AKIDAH

Kalau kita sudah mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan akidah maka dengan mudah kita dapat mengetahui hal-hal yang dapat membentengi diri dari berbagai penyimpangan. Hal tersebut teringkas dalam beberapa hal berikut:

  1. Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam pengambilan ilmu akidah yang benar. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh generasi awal umat ini. Imam Malik berkata : “Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah membuat baik generasi awalnya”. Selain itu dengan mengkaji akidah kelompok yang menyimpang dan mengetahui kerancuan-kerancuan akidah mereka dalam rangka untuk membantah dan berhati-hati darinya. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair.

Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengamalkan

Akan tetapi untuk menjaga diri darinya

Barang siapa yang tidak mengetahui kejelekan dari kebaikan

Maka dia akan terjatuh kedalam kejelekan tersebut

  1. Perhatian terhadap pembelajaran ilmu akidah yang benar dengan berbagai macam jenjangnya.
  1. Bersungguh-sungguh dalam mempelajari kitab-kitab ulama terdahulu yang masih bersih dari berbagai macam penyimpangan dan menjauh dari kitab-kitab dari kelompok yang menyimpang, seperti: kelompok Sufi, Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Maturidiyah dan selain mereka. Ini dilakukan untuk mengetahui akidah mereka dalam rangka membantah kebatilan mereka dan berhati-hati darinya.
  1. Tegaknya para dai yang meyeru kepada perbaikan akidah di kalangan manusia, serta membantah kebatilan-kebatilan kelompok yang menyimpang.

[Disarikan dari Kitab ‘Aqidah at-Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dan beberapa rujukan lainnya]

RIDWAN ABU QATADAH

PUASA ADA 3 TINGKATAN

24 Jul

Gambar

Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi rahimahullah membagi puasa menjadi tiga tingkatan, yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang yang lebih khusus. Berikut penjelasan beliau rahimahullahu Ta’ala:

 

فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة وأما صوم الخصوص فهو كف النظر ، واللسان، واليد، والرجل ، والسمع ، والبصر، وسائر الجوارح عن الآثام . وأما صوم خصوص الخصوص فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة، والأفكار المبعدة عن الله تعالى، وكفه عما سوى الله تعالى بالكلية، وهذا الصوم له شروح تأتى فى غير هذا الموضع

.

Puasa orang awam yakni sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Adapun puasa orang khusus yakni menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang lebih khusus ialah puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan ia dari Allah Ta’ala serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.

 

من آداب صوم الخصوص غض البصر، وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه ، أو ما لا يفيد ، وحراسة باقي الجوارح . وفى الحديث من رواية البخارى، أن النبى صلى الله عليه وآله وسلم قال

 

Termasuk adab puasa orang yang khusus ialah menahan pandangan dari yang haram, dan menjaga lisan dari menggangu orang lain berupa perkataan yang haram, makruh, atau perkataan tidak ada manfaatnya sama sekali, serta menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa.

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

 

من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة فى أن يدع طعامه وشرابه

 

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan omongan dusta dan tidak pula meninggalkan perbuatan tercela dalam puasanya, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk dia meninggalkan makanan dan minumannya.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin – Bayanu Asraris Shaum wa Adabih]

 

Dengan demikian sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk menempuh amalan puasa yang terbaik di sisi Allah Ta’ala.

 

Fikri Abul Hasan

 

Sebuah Sampan Yang Mengantarkan Kepada Keselamatan [Part I]

17 Jul

Gambar

A.     MUKADDIMAH

Aqidah Islam adalah aqidah yang dibawa oleh setiap Rasul yang diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menjalankan perkara aqidah tersebut.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (QS. An-Nahl : 36). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

 

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha bijaksana lagi Maha tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya. (QS. Huud : 1-2).

 

Aqidah adalah pondasi Islam, yang dibangun di atas pondasi tersebut seluruh syari’at Islam. Maka sebagaimana dimaklumi bersama, seseorang jika ingin meninggalkan bangunannya maka dia harus memperkokoh pondasi bangunan tersebut. Jika dia tidak melakukan hal tersebut maka bangunan tersebut akan cepat runtuh. Hanya orang bodoh saja yang terus meninggikan bangunan tersebut tetapi tidak mau memperkokoh pondasinya.

Oleh karena itu pada pembahasan-pembahasan berikut, akan kita pelajari bersama pengertian aqidah dan beberapa hal yang berkaitan dengan aqidah.

B.      PENGERTIAN AQIDAH

Secara bahasa kata aqidah adalah bentuk pecahan dari Al-‘Aqdu yaitu ikatan atau simpul yang kuat. Adapun secara umum, aqidah dapat diartikan sebagai keimanan atau ketetapan pasti yang tidak dicampuri dengan keraguan. Jika ketetapan itu sesuai dengan kenyataan dan sesuai wahyu dari Allah, maka itu dinamakan sebagai aqidah yang benar (Al-Aqidah Ash Shahihah) yang akan menyelamatkannya dari siksa Allah. Dan jika ketetapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan wahyu  Allah, maka dia dinamakan sebagai aqidah yang bathil yang akan membuahkan siksaan dan kecelakaan bagi pemeluknya di dunia dan di akherat.

Sebagian para ulama ada juga yang menjelaskan aqidah secara umum yaitu keimanan yang pasti kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan keimanan kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk. Inilah yang dinamakan rukun Iman. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi … (QS. Al-Baqarah : 177)

C.      HAKEKAT KEIMANAN

Hakekat keimanan adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan amalan dengan anggota badan, keimanan bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini adalah hakekat keimanan yang diterangkan oleh para ulama-ulama Islam sepanjang sejarah. Di antaranya al-Imam ‘Abdullah bin Muhammad Al-Andalusy, dia berkata dalam syairnya (yang artinya):

Keimanan kita kepada Allah ada 3 hal

Amalan, ucapan dan keyakinan hati

Keimanan bertambah dengan taqwa dan berkurang dengan maksiat

Keduanya berkumpul dalam hati

Di antara dalil para ulama dalam masalah ini adalah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

Iman ada tujuhu puluh tiga hingga tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaahu yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah sebagian dari iman.

Dalam hadits di atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mencontohkan amalan-amalan keimanan:

Ucapan dengan lisan   : ucapan laa ilaha illallahu

Ucapan dengan hati    : rasa malu

Amalan badan             : menyingkirkan gangguan dari jalan

Dalil yang menunjukan keimanan bisa bertambah dan berkurang, di antaranya dalam surah Al-Fath : 4 (yang artinya):

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 4)

Sebagaimana dimaklumi bersama, sesuatu yang bisa bertambah pasti dia bisa berkurang, maka keimanan akan terus bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan.

D.     SUMBER PENGAMBILAN ILMU AQIDAH

Masalah aqidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak tetap masalah tersebut kecuali dengan dalil dari pembuat syari’at. Maka tidak ada kebebasan untuk pendapat-pendapat atau ijtihad dalam masalah aqidah. Dari sini bisa dipahami bahwa sumber ilmu aqidah terbatas apa yang datang dalam Al-Qur’an dan hadits. Hal ini karena tidak ada siapapun yang mengetahui tentang Allah, tentang perkara yang merupakan kewajiban untuk-Nya, tentang perkara yang Allah disucikan darinya melainkan Allah sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah melebihi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Oleh karena itu jalan beragama yang telah ditempuh oleh para sahabat Nabi, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan generasi-generasi setelahnya dalam pengambilan ilmu aqidah hanya terbatas dari Al-Qur’an dan Sunnah. Maka apa saja yang ditunjukkan dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang hak Allah, mereka mengimaninya, meyakininya dan mengamalkannya, serta apa saja yang tidak di tunjukkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah tentang Allah, mereka pun meniadakannya dan menolaknya. Oleh karena itu aqidah mereka adalah satu dan tidak terjadi perbedaan antara mereka pada perkara aqidah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thahaa : 123).

Berbeda dengan sebagian manusia yang membangun aqidahnya selain dari Al-Qur’an dan hadits. Di antara mereka mengambil aqidah dari ilmu kalam, ilmu mantiq, yang keduanya merupakan warisan Yunani atau membangun aqidahnya di atas pendapat-pendapat manusia, atau qiyas (analogi), maka pasti akan terjadi penyimpangan dan perbedaan dalam aqidah. Padalah Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.(QS. Ali Imran : 103).

E.      PENYIMPANGAN DALAM AQIDAH

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah perkara yang berbahaya dan sangat mencelakakan, karena aqidah yang benar adalah faktor pendorong untuk melakukan amalan yang bermanfaat. Lantas apa jadinya jika aqidah yang merupakan pendorong amal shalih tersebut rusak dan menyimpang…?

Individu yang tidak memiliki aqidah yang benar, maka ia akan seperti binatang buas yang dipenuhi kebingungan dan keraguan yang terus bertumpuk. Hal ini akan mengakibatkan tertutupnya pandangan yang benar guna menempuh hidup yang bahagia. Sehingga kehidupannya menjadi sempit sampai ia tidak bisa keluar darinya, kemudian ia berusaha keluar dari kesempitan tersebut dengan mengakhiri  kehidupannya. Sebagaimana ini adalah kenyataan kebanyakan dari individu-individu yang tidak diberi hidayah aqidah yang benar.

Oleh karena itu, masyarakat yang tidak dibangun dengan aqidah yang benar, maka mereka seperti ‘masyarakat binatang’ yang tidak memahami perkara yang akan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang bahagia. Hal ini sebagaimana bisa disaksikan pada kehidupan orang-orang kafir, meskipun mereka memiliki hal-hal yang bisa membawa kehidupan mereka kepada kebahagiaan yang sifatnya materi. Akan tetapi, itu semua akan menyeret mereka kepada kebinasaan. Karena bagaimanapun juga faktor materi butuh kepada timbangan dan petunjuk agar bisa bermanfaat. Dan tidak bisa membimbingnya kecuali aqidah yang benar.

Bersambung Insya Allah..

RIDWAN ABU QATADAH